“Loud and Proud, All for One N’ One for All”

“Loud and Proud, All for One N’ One for All”
Ex-Steak 17 Jl. A. Yani 348 Pabelan, Solo, JaTeng, Indonesia. dikutip dari ROCK IS NOT DEADSolo - The Solo’s Ska-Reggae Party with More Than 300 attendants, End Up in A District Police Office!!Sabtu, 27 Oktober 2007 adalah saat suatu moment bersejarah di sebuah kota di Jawa Tengah, Solo. Saat pertama kalinya (setelah beberapa tahun vakum, gigs terakhir diadakan tahun 2000) diadakan sebuah acara underground kolektif yang mengusung lagu-lagu beraliran ska dan reggae.Acara monumental yang kontroversial ini diselenggarakan oleh sebuah band ska solo, The Mobster, yang meniatkannya untuk launching album mini mereka yang ditajuki “Sing N Dance”, selain untuk mewadahi daya cipta dan kreasi para pemuda pemudi yang mengaku menyukai hingga membuktikannya dengan membentuk grup band ska dan reggae, jenis musik yang berakar dari Jamaika, yang menyebar ke Inggris, Amerika, Asia hingga Indonesia, mengerucut sampai ke Solo.
Menyuarakan dengan bangga karya ska dan reggae mereka, sing it loudly and proudly.Acara dimulai dengan tampilnya grup band ska dari Solo yang menamai diri mereka “The Suspender”, dengan para personil yang duduk di bangku SMU. Mereka telah berhasil menampilkan karya mereka sendiri selain bernyanyi lagu senior mereka The Specials. Sebelum penampil kedua “Daun 5 Jari” dari Solo memainkan lagu reggae menempatkan diri di atas panggung,
MC acara Melvo berhasil membawa atmosfir semakin panas dari cuaca yang telah panas dengan bersolo nyanyi diiringi gitar dimainkannya sendiri, mengajak semua untuk berdoa bersama dengan berdendang lagu Bob Marley Redemption Song, yang juga pernah dibawakan oleh Joe Strummer of The Clash. Selain itu dia juga memasukkan sedikit hal edukatif yang disampaikan tanpa nada menggurui tentang genre yang berakar dari Jamaika ini serta perkembangannya mengingat karena ska reggae yang berkembang bak jamur di musim hujan, tak banyak yang tahu tentang asal-usul bahkan perkembangannya. Membongkar pola pikir reggae = Bob Marley dan sebaliknya, untuk kemudian menata kembali sesuai apa yang ada di Negara kelahiran Jamaika, meski tak bisa dipungkiri mendapat pengaruh dari Amerika dan Inggris pada awal kemunculannya.
Sementara yang hadir dibuat bergoyang oleh “Daun 5 Jari”, “Home Alone” pengusung lagu ska 2 tone dari Solo menyiapkan diri untuk terus memanaskan dance hall. Sementara itu sebuah grup band skacanda dari Yogyakarta “The Playbois” yang tak lupa berpantun ria sebelum bernyanyi, meneruskan tugas memukau yang hadir dengan salah satu lagu yang dibawakannya, Bengawan Solo dengan versi mereka, ska. Sambung menyambung, tugas dilanjutkan oleh “El Magnifico” dari Solo dengan seorang vokalis perempuan yang magnificent, mengusung musik ska third wave. Partisipan dari Yogyakarta yang kedua dan menyambung di belakang “El Magnifico” adalah “The Gangsters” yang bermain musik ska. Salah satu lagu yang dibawakannya adalah My Boy Lollypop yang dipopulerkan pada awalnya oleh Millie small.Dari banyak grup band yang entah hanya mengaku-ngaku sebagai band reggae Solo, atau memang telah diakui khalayak sebagai band reggae baik secara kualitas bermusik maupun yang lebih dari itu, bisa menjadi tempat bertanya segala hal yang tersangkut paut dengan genre ini, hanya ada 2 grup musik reggae yang mau tampil mendukung scene yang coba dikembangkan di Solo ini, “Daun 5 Jari” dan yang tampil sebagai band yang akhirnya terpaksa menjadi band penutup, “Kalama Soul” dari Solo. Mau tidak mau membuat kita berpikir juga, where are the others? Lalu yang laen ke mana?
Acara yang dirancang nulai jam 17.00 dan diakhiri jam 22.00 ini ternyata baru berhasil dimulai jam 18.30 dan terpaksa diakhiri jam 21.30 dengan sedikit keributan antara polisi yang hadir tak diundang, dengan pihak penyelenggara. Hal ini dipicu oleh jumlah hadirin yang terhormat, yang tanpa disangka dan dinyana berjumlah sekitar 300 orang! , yang tak kuasa dikendalikan berpencar di luar lokasi yang kebetulan sekali langsung jalan utama, yang otomatis sedikit mengganggu kelancaran lalu lintas jalan tersebut. Selain itu lokasi juga merupakan bagian dari pemukiman penduduk, kemudian memicu beberapa orang yang mengaku sebagai warga setempat a.k.a PREMAN KAMPUNG yang ingin membubarkan acara karena dianggap meresahkan warga, ujung-ujungnya penyelenggara dipaksa membayar sejumlah uang pada beberapa orang dari kampung tersebut.Sementara itu, hal yang menjadi pokok permasalahan kekacauan ini diketahui adalah pemilik tempat EX-STEAK 17 PABELAN yang menyewakan tempatnya tanpa ijin keramaian pada kepolisian, bahkan konfirmasi ke warga setempat, tidak mau ambil pusing dengan masalah ini.
Terima kasih pada pemilik EX-STEAK 17 PABELAN ini, akhirnya pihak penyelenggara harus berurusan dengan polisi sektor setempat guna mengurus perijinan, dan ujungnya…bayar lagi.Harus diakui, acara ini adalah acara ska-reggae di Solo pertama yang sensasional. Betapa tidak, siapa yang menyangka massa yang berkumpul ternyata sekitar 300 jiwa!! Ingat!, itu saja belum termasuk para polisi dan orang-orang yang mengaku dari kampung terdekat. Tapi itu ternyata belum terlalu sensasional tanpa menambahkan fakta bahwa band yang paling ditunggu, yang meniatkan acara ini juga untuk promosi album pertama mereka, The Mobster yang kebetulan mendapat urutan terakhir dari sistem undian yang adil sebelumnya, akhirnya malah batal main!! Isn’t it ironic? Karena kalau acara tidak dibubarkan saat itu juga, polisi mengancam penyelenggara akan berurusan dengan poltabes!! Hah…!!!Most of all…great job!! Salute to you guys, telah menyelenggarakan acara ska-reggae kolektif di Solo city. Adalah pembuktian diri dalam keseriusan mengembangkan scene ska dan reggae di kota Solo. Salut untuk The Mobster dan semua pihak yang telah bekerjasama dalam berjalannya acara ini, termasuk para partisipan (band-band ska dan reggae Solo dan Yogyakarta yang sudi melibatkan diri) dan para hadirin yang terhormat yang membayar HTM sebesar 3000 rupiah. ( Contributed by Febri/RIND )






0 komentar:
Posting Komentar