Translate

0 com

Mengenai gangstarasta

Gangstarasta terbentuk tanggal 19 Desember 2001. Band ini memilih aliran musik reggae karena jiwa dari musik tersebut dianggap dapat mewakili masing-masing pribadi personik. Dari awal terbentuknya hingga saat ini Gangstarasta telah banyak tampil di musik di Jakarta hingga ke berbagai daerah di luar pulau, seperti : NTT, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Home Town: Karawaci, Jakarta
Music Idiom: Reggae
Latest Album: Unite
Latest SIngle: Unity
Members / Instrument: - Emilio: Vocals ; - Uncle Budd: Guitars ; - Boim: Drums ;
- Cuwox: Keyboards ; - Darta: Bass Guitar
Record Label: Fame, Jakarta
Business Representative: PT. Fame, Jakarta

Vision
Gangstarasta juga mempunyai misi mengembangkan cinta dan perdamaian tanpa perbedaan agama, ras, suku dan status sosial. Walaupun baru kali ini membuat album band ini sudah banyak dikenal dikalangan anak muda karena biasa tampil di acara Pentas Seni sekolah2 se-Jabodetabek serta acara musik Indonesia timur seperti: NTT, Sulawesi, Maluku papua.

Notes
Gangstarasta pernah mengalahkan band Ungu dalam jumlah penonton dengan perbandingan 5 ribu penonton dengan lima puluh ribu, ditempat yang sama dan event organizer yang sama.


Read more »
0 com

bursa tranfers

Bursa Transfer Liga Premier Inggris 2008-09
Bursa transfer Liga Premier Inggris ditutup per 1 September. Bursa transfer benar-benar dimaksimalkan oleh 20 klub kompetitor untuk memperbaiki kekuatan skuadnya masing-masing. Antusiasme itu terlihat justru bukan oleh klub-klub besar. Klub yang biasa berkutat di papan bawah begitu intens berbelanja atau menjual pemain, termasuk juga klub medioker yang berambisi menyodok ke papan atas.Fulham yang musim lalu berjuang keras sebelum akhirnya lolos dari jerat degradasi tercatat sebagai klub paling sibuk. Demikian pula dengan Sunderland. Sebaliknya, Manchester United dan Chelsea yang musim lalu keluar sebagai juara dan runner-up mencatat pembelanjaan yang minim. Tottenham Hotspur dan Manchester City menggeliat demi menunaikan ambisi menembus posisi empat besar.Manchester City yang diakuisisi konsorsium Abu Dhabi, ngotot menjelang bursa ditutup. The Citizens memecahkan rekor transfer di Inggris ketika membeli Robinho dari Real Madrid senilai 32,5 juta pound. Rekor yang memecahkan catatan sebelumnya ayng ditorehkan pembelian Dimitar Berbatov dari Tottenham Hotspur ke Manchester United.

Berikut ini daftar komplet bursa transfer pemain musim panas di Premiership:

LIGA PREMIER INGGRIS
ARSENAL
Masuk: Carlos Vela (penyerang/Osasuna), Aaron Ramsey (gelandang/Cardiff City), Samir Nasri (gelandang/Marseille), Amaury Bischoff (gelandang/Werder Bremen), Mikael Silvester (bek/Manchester United).

Keluar: Jens Lehmann (kiper/habis kontrak), Mathieu Flamini (gelandang/habis kontrak), Kerrea Gilbert (bek/Leicester City), Alexander Hleb (gelandang/Barcelona), Gilberto Silva (gelandang/Panathinaikos), Justin Hoyte (bek/Middlesbrough), Armand Traoure (bek/Portsmouth), Philippe Senderos (bek/AC Milan).
ASTON VILLA

Masuk: Brad Friedel (kiper/Blackburn Rovers), Luke Young (bek/Midlesbrough), Steve Sidwell (gelandang/Chelsea), James Milner (gelandang/Newcastle United), Curtis Davies (West Brom), Wayne Routledge (bek/Tottenham Hotspur), Nicky Shorey (bek/Reading), Brad Guzan (kiper/Chivas), Carlos Cuellar (bek/Rangers).

Keluar: Luke Moore (penyerang/West Brom), Shaun Maloney (gelandang/Celtic), Patrick Berger (gelandang/Sparta Prague), Olof Mellberg (bek/Juventus), Thomas Sorensen (kiper/Stoke).

BLACKBURN ROVERS
Masuk: Vince Grella (gelandang/Torino), Paul Robinson (kiper/Tottenham Hotspur), Keith Andrews (gelandang/MK Dons), Mark Bunn (kiper/Northampton), Carlos Villanueva (gelandang/Audax Italiano), Danny Simpson (bek/Manchester United).
Keluar: David Bentley (gelandang/Tottenham Hotspur), Brad Friedel (kiper/Aston Villa), Peter Enckelman (kiper/Cardiff), Maceo Rigters (penyerang/Barnsley), Stephane Henchoz (bek/habis kontrak), Bruno Berner (bek/habis kontrak).
BOLTON WANDERERS

Keluar: Johan Elmander (penyerang/Toulouse), Fabrice Muamba (gelandang/Birmingham City), Danny Shittu (bek/Watford), Mustapha Riga (gelandang/Levante), Ebi Smolarek (penyerang/Racing Santander).

Keluar: El-Hadji Diouf (penyerang/Sunderland), Abdoulaye Meite (bek/West Brom), Daniel Braaten (penyerang/Toulouse), Andranik Teymourian (gelandang/Fulham), Ivan Campo (gelandang/Ipswich), Blerim Dzemaili (gelandang/Torino), Stelios Gianakopoulos (gelandang/habis kontrak).

CHELSEA
Masuk: Jose Bosingwa (bek/FC Porto), Deco (gelandang/Barcelona), Fabio Paim (penyerang/Sporting Lisbon).

Keluar: Shaun Wright-Phillips (gelandang/Manchester City), Tal Ben Haim (bek/Manchester City), Steve Sidwell (gelandang/Aston Villa), Khalid Boulahrouz (bek/Stuttgart), Andriy Shevchenko (penyerang/AC Milan), Claude Makelele (gelandang/Paris St Germain), Hernan Crespo (penyerang/Inter Milan), Ben Sahar (penyerang/Portsmouth), Claudio Pizarro (penyerang/Werder Bremen).

EVERTON
Masuk: Marouane Fellaini (gelandang/Standard Liege), Louis Saha (penyerang/Everton), Lars Christian Jacobsen (bek/Nuremberg), Segundo Castillo (gelandang/Red Star Belgrade), Carlo Nash (kiper/Wigan).

Keluar: Andy Johnson (penyerang/Fulham), Lee Carsley (gelandang/Birmingham City), Stefan Wessels kiper/(VfL Osnabruck).

FULHAM
Masuk: Andy Johnson (penyerang/Everton), Bobby Zamora (penyerang/West Ham), Fredrik Stoor (bek/Rosenborg), David Stockdale (kiper/Darlington), John Pantsil (bek/West Ham), Dickson Etuhu (gelandang/Sunderland),Mark Schwarzer (kiper/Middlesbrough), Zoltan Gera (gelandang/West Brom), Andranik Teymourian (gelandang/Bolton), Toni Kallio (bek/BSC Young Boys), Pascal Zuberbuhler (kiper/Neuchatel Xamax), Julian Gray (gelandang/Coventry).

Keluar:: David Healy (penyerang/Sunderland), Steven Davis (gelandang/Rangers), Dejan Stefanovic (bek/Norwich), Jari Litmanen (penyerang/FC Lahti), Collins John (penyerang/NEC Nijmegen), Brian McBride (penyerang/Chicago Fire), Tony Warner (kiper/Hull), Carlos Bocanegra (bek/Rennes), Bjorn Runstrom (penyerang/OB), Philippe Christanval (bek/habis kontrak), Alexei Smertin (gelandang/habis kontrak), Simon Elliott (gelandang/habis kontrak), Ian Pearce (bek/habis kontrak), Elliot Omozusi (bek/Norwich), Lee Cook (gelandang/QPR), Hameur Bouazza (penyerang/Charlton), Eddie Johnson (penyerang/Cardiff), Moritz Volz (bek/Ipswich), Gabriel Zakuani (bek/Peterborough), Kasey Keller (kiper/pensiun), Antti Niemi (kiper/pensiun).

HULL CITY
Masuk: Daniel Cousin (penyerang/Rangers), Anthony Gardner (bek/Tottenham Hotspur), Peter Halmosi (gelandang/Plymouth), George Boateng (gelandang/Middlesbrough), Craig Fagan (penyerang/Derby County), Geovanni (gelandang/Manchester City), Bernard Mendy (bek/Paris St Germain), Tony Warner (kiper/Fulham), Marlon King (penyerang/Wigan), Paul McShane (bek/Sunderland), Kamil Zayatte (bek/Young Boys).

Keluar: David Livermore (gelandang/Brighton), Henrik Pedersen (penyerang/Silkeborg IF), Michael Bridges (penyerang/Carlisle), Jay-Jay Okocha (gelandang/pensiun).

LIVERPOOL
Masuk: Robbie Keane (penyerang/Tottenham Hotspur), Albert Riera (gelandang/Espanyol), Andrea Dossena (bek/Udinese), Diego Cavalieri (kiper/Palmeiras), David Ngog (penyerang/Paris St Germain), Philipp Degen (bek/Borussia Dortmund).

Keluar: Peter Crouch (penyerang/Portsmouth), John Arne Riise (bek/AS Roma), Scott Carson (kiper/West Brom), Danny Guthrie (gelandang/Newcastle Unitedd), Steve Finnan (bek/Espanyol), Harry Kewell (gelandang/Galatasaray), Antony Le Tallec (penyerang/Le Mans), Jack Hobbs (bek/Leicester City), Sebastian Leto (gelandang/Olympiakos), Andriy Voronin (penyerang/Hertha Berlin).
MANCHESTER CITY

Masuk: Robinho (penyerang/Real Madrid), Jo (penyerang/CSKA Moscow), Shaun Wright-Phillips (gelandang/Chelsea), Vincent Kompany (bek/Hamburg), Pablo Zabaleta (bek/Espanyol), Tal Ben Haim (bek/Chelsea), Glauber Berti (bek/FC Nuremburg).

Keluar: Vedran Corluka (bek/Tottenham Hotspur), Rolando Bianchi (penyerang/Torino), Georgios Samaras (penyerang/Celtic), Matthew Mills (bek/Doncaster), Andreas Isaksson (kiper/PSV Eindhoven), Geovanni (gelandang/Hull), Sun Jihai (bek/Sheffield United), Bernardo Corradi (penyerang/Reggina), Paul Dickov (penyerang/Leicester), Emile Mpenza (penyerang/Plymouth).

MANCHESTER UNITED
Masuk: Dimitar Berbatov (penyerang/Tottenham Hotspur).

Keluar: Gerard Pique (bek/Barcelona), Chris Eagles (gelandang/Burnley), Mikael Silvestre (bek/Arsenal), Danny Simpson (bek/Blackburn), Tom Heaton (kiper/Cardiff), Febian Brandy (penyerang/Swansea), Craig Cathcart (bek/Plymouth), Lee Martin (gelandang/Nottingham Forest), Dong Fangzhuo (penyerang/Dalian Haichang), Frazier Campbell (penyerang/Tottenham Hotspur).

MIDDLESBROUGH
Masuk: Didier Digard (gelandang/Paris St Germain), Marvin Emnes (gelandang/Sparta Rotterdam), Justin Hoyte (bek/Arsenal).

Keluar: Luke Young (bek/Aston Villa), Lee Cattermole (gelandang/Wigan), George Boateng (gelandang/Hull), Mark Schwarzer (kiper/Fulham), Fabio Rochemback (gelandang/Sporting Lisbon), Lee Dong-Gook (penyerang/Seongnam Ilhwa Chunma), Tony McMahon (bek/Sheffield Wednesday), Gaizka Mendieta (gelandang/habis kontrak).

NEWCASTLE UNITED
Masuk: Fabricio Coloccini (bek/Deportivo La Coruna), Xisco (penyerang/Deportivo La Coruna), Danny Guthrie (gelandang/Liverpool), Jonas Gutierrez (gelandang/Real Mallorca), Ignacio Gonzalez (gelandang/Valencia).

Keluar: James Milner (gelandang/Aston Villa), Emre (gelandang/Fenerbahce), David Rozehnal (bek/Lazio), Abdoulaye Faye (bek/Stoke), Peter Ramage (bek/QPR), Stephen Carr (bek/habis kontrak).

PORTSMOUTH
Masuk: Peter Crouch (penyerang/Liverpool), Younes Kaboul (bek/Tottenham Hotspur), Jerome Thomas (gelandang/Charlton), Glen Little (gelandang/Reading), Ben Sahar (penyerang/Chelsea), Armand Traore (gelandang/Arsenal), Nadir Belhadj (bek/Lens).

Keluar: Sulley Ali Muntari (gelandang/Inter Milan), Pedro Mendes (gelandang/Rangers), Linvoy Primus (bek/Charlton), Martin Cranie (bek/Charlton).

STOKE CITY
Masuk: Dave Kitson (penyerang/Reading), Seyi Olofinjana (gelandang/Wolves), Danny Higginbotham (bek/Sunderland), Abdoulaye Faye (bek/Newcastle United), Ibrahima Sonko (bek/Reading), Michael Tonge (gelandang/Sheffield United), Andrew Davies (bek/Southampton), Tom Soares (gelandang/Crystal Palace), Amdy Faye (gelandang/Charlton), Thomas Sorensen (kiper/Aston Villa).

Keluar: Adam Rooney (penyerang/Inverness), Marlon Broomes (bek/Blackpool), Russell Hoult (kiper/Notts County), Jon Parkin (penyerang/Preston).

SUNDERLAND
Masuk: Anton Ferdinand (bek/West Ham), Steed Malbranque (gelandang/Tottenham Hotspur), George McCartney (bek/West Ham), El-Hadji Diouf (penyerang/Bolton), Pascal Chimbonda (bek/Tottenham Hotspur), David Healy (penyerang/Fulham), Teemu Tainio (gelandang/Tottenham Hotspur), David Meyler (gelandang/Cork City), Nick Colgan (kiper/Ipswich), Djibril Cisse (penyerang/Marseille).

Keluar: Danny Higginbotham (bek/Stoke), Dickson Etuhu (gelandang/Fulham), Andy Cole (penyerang/Nottingham Forest), Stephen Wright (bek/Coventry), Russell Anderson (bek/Burnley), Greg Halford (bek/Sheffield United), Roy O’Donovan (penyerang/Dundee United), Arnau Riera (gelandang/Falkirk), Ross Wallace (gelandang/Preston), Paul McShane (bek/Fulham), Ian Harte (bek/habis kontrak), Stan Varga (bek/habis kontrak).

TOTTENHAM HOTSPUR
Masuk: Luka Modric (gelandang/Dinamo Zagreb), David Bentley (gelandang/Blackburn), Roman Pavlyuchenko (penyerang/Spartak Moscow), Heurelho Gomes (kiper/PSV Eindhoven), Vedran Corluka (bek/Manchester City), Giovani Dos Santos (penyerang/Barcelona), John Bostock (gelandang/Crystal Palace), Cesar Sanchez (kiper/Real Zaragoza), Frazier Campbell (penyerang/Manchester United).

Keluar: Dimitar Berbatov (penyerang/Manchester United), Robbie Keane (penyerang/Liverpool), Steed Malbranque (gelandang/Sunderland), Younes Kaboul (bek/Portsmouth), Paul Robinson (kiper/Blackburn), Anthony Gardner (bek/Hull), Tommy Forecast (bek/Southampton), Pascal Chimbonda (bek/Sunderland), Teemu Tainio (gelandang/Sunderland), Lee Young-Pyo (bek/Borussia Dortmund).

WEST BROMWICH ALBION
Masuk: Borja Valero (gelandang/Real Mallorca), Scott Carson (kiper/Liverpool), Gianni Zuiverloon (bek/Heerenveen), Luke Moore (penyerang/Aston Villa), Roman Bednar (penyerang/Hearts), Abdoulaye Meite (bek/Bolton), Marek Cech (gelandang/FC Porto), Jonas Olsson (bek/NEC Nijmegen), Kim Do-Heon (gelandang/Seongnam Ilhwa Shunma), Graham Dorrans (penyerang/Livingston), Ryan Donk (bek/AZ Alkmaar).

Keluar: Curtis Davies (bek/Aston Villa), Martin Albrechtsen (bek/Derby County), Luke Steele (kiper/Barnsley), Zoltan Gera (gelandang/Fulham), Kevin Phillips (penyerang/Birmingham), Jared Hodgkiss (bek/Aberdeen), Tininho (gelandang/habis kontrak).

WEST HAM UNITED
Masuk: Valon Behrami (bek-gelandang/Lazio), Holmar Orn Eyjolfsson (bek/HK Kopavogur), Jan Lastuvka (kiper/Shakhtar Donetsk), David Di Michele (penyerang/Torino), Herita Ilunga (bek/Toulouse).

Keluar: Anton Ferdinand (bek/Sunderland), Bobby Zamora (penyerang/Fulham), George McCartney (bek/Sunderland), John Pantsil (bek/Fulham), Richard Wright (kiper/Ipswich), Nolberto Solano (gelandang/Larissa), Freddie Ljungberg (gelandang/putus kontrak).

WIGAN ATHLETIC
Masuk: Lee Cattermole (gelandang/Middlesbrough), Olivier Kapo (gelandang/Birmingham), Daniel de Ridder (gelandang/Birmingham), Amr Zaki (penyerang/Zamalek), Maynor Figueroa (bek/Olimpia).

Keluar: Andreas Granqvist (bek/Gronigen), David Cotterill ([enyerang/Sheffield United), Julius Aghahowa (penyerang/Kayserispor), Salomon Olembe (gelandang/Kayserispor), Andy Webster (bek/Rangers), Josip Skoko (gelandang/Hadjuk Split), Marlon King (penyerang/Hull), Rachid Bouaouzan (gelandang/NEC Nijmegen), Antoine Sibierksi (penyerang/Norwich).

Read more »
0 com

Niat Arshavin Tinggalkan Zenit


Januari, Target Arshavin Tinggalkan Zenit

Keinginan Andrei Arshavin mengecap pengalaman di liga elite Eropa kian kuat. Januari ditetapkan sebagai batas penyerang Timnas Rusia itu untuk meninggalkan Zenit St Petersburg, klub yang dibelanya sejak mengawali karier sebagai pesepakbola profesional pada tahun 2000.Inggris dan Spanyol, dua liga di negara itulah yang diincar pemain kelahiran 29 Mei tersebut. Musim panas tahun lalu namanya ramai menghiasi kabar bursa transfer seusai bermain gemilang di Euro 2008. Tottenham Hotspur nyaris mengikatnya namun gagal lantaran perbedaan pandangan soal besarnya fee.Tottenham gagal dan Barcelona, klub yang dikagumi pemain berusia 27 tahun itu tidak melayangkan tawaran konkret ke Zenit. Chelsea sampai Manchester United juga dikabarkan berminat pada penyerang eksplosif ini tapi tidak ada yang mencapai kenyataan.Berbicara mengenai rumor terbaru, dua klub London utara: Tottenham dan Arsenal diyakini menjadi klub terdepan memboyong Arshavin di bursa transfer Januari. Rumor yang terkuak setelah dikabarkan agen Arshavin bertemu dengan petinggi kedua klub di Inggris sana (Baca: Arsenal Kembali Buru Arshavin).Tapi kemudian kabar tersebut dibantah oleh Dennis Lachter, agen Arshavin. “Itu tidak benar,” ungkap Lachter seperti dikutip Setanta Sports. “Saya berada di London dan dia (Arshavin) juga berada di sana tapi alasan kami ke sana adalah sebagai bagian dari kontrak dengan perusahaan sponsor.”“Saya berada di pusat latihan Tottenham, tapi sepertinya ada seseorang yang melihat dan dengan gampang menyangkut-pautkan keberadaan saya dengan pembicaraan transfer. Faktanya Arshavin tidak hadir untuk—membicarakan transfer dengan—Arsenal ataupun Tottenham,” imbuhnya.Meski demikian Lachter tidak memungkiri jika kliennya ngebet untuk angkat kaki dari Zenit sebelum bursa transfer musim dingin ditutup akhir bulan depan. “Dia pastinya ingin hengkang pada Januari atau baik pemain maupun klub tidak mendapat apa-apa. Zenit dan Arshavin mengerti inilah waktu yang tepat untuk berpisah,” pungkasnya.
Read more »
0 com

Pemburuan Ramos Terhadap Young


Ramos Ngotot Buru Young

Kehadiran Lassana Diarra yang diboyong dari Portsmouth belum membuat Juande Ramos merasa puas dengan komposisi skuad Real Madrid, terutama di barisan lini tengah. Karena itu, Ramos memberi daftar atau list pemain yang pantas dijadikan amunisi baru Los Blancos guna mendongkrak performa tim di paruh kedua musim.
Sejauh ini, seperti yang dilansir berbagai media massa, sejumlah pemain masuk dalam daftar incaran Ramos, seperti mantan anak didiknya di Tottenham Hotspur, Aaron Lennon, winger CSKA Moskow, Milos Krasic, pemain sayap Liverpool Jermaine Pennant.
Namun, yang menjadi buruan utama Ramos adalah pemain muda yang di musim ini penampilannya begitu memesona bersama Aston Villa, Ashley Young. “Pemain sayap terbaik di Inggris saat ini adalah (Ashley) Young. Saya tidak ragu jika kedatangannya bakal membuat sensasi,” puji Ramos seperti yang dikutip Daily Star.Namun, Villa dan Martin O’Neill, manajer tim, tentunya tidak mau melepas mantan winger Watford berusia 23 tahun itu. Pasalnya, kesuksesan Villa menembus tiga besar klasemen sementara premiership tidak bisa terlepas dari peran atau kontribusi Young yang sejauh ini dari 18 partai selalu tampi jadi pemain inti (starter) dan menyumbang lima (5) gol plus lima (5) assists.Akan tetapi, Ramos bersikukuh bahwa timnya butuh kehadiran pemain yang ketika diboyong O’Neill dari The Hornets hanya dihargai 9,75 juta pound atau sekitar lebih dari Rp 160 miliar. Karena itu, seperti yang dilansir harian olahraga berpengaruh di Spanyol, Marca, yang notabene jadi “perpanjangan tangan’ Madrid, Ramos meminta Presiden Klub, Ramon Calderon, dan Direktur Sport Klub, Predrag Mijatovic untuk terus berusaha memboyong Young ke Santiago Bernabeu.
Disebut-sebut Los Merengues bersiap menyodorkan dana transfer sekitar 25 juta pound (sekitar Rp 412,5 miliar) atau dua setengah kali lipat dibanding bandrol Young semula. Di mata Ramos, 54 tahun, Young bakal cocok disandingkan dengan Diarra di lini tengah guna menopang kinerja Klaas-Jan Huntelaar.
Mendapat ‘serangan’ dari Ramos, Calderon dan Mijatovic terpaksa berpikir ulang tentang strategi klub di bursa transfer musim dingin Januari. Apalagi, Madrid secara verbal telah sepakat dengan Liverpool terkait fee transfer Pennant. Setelah dikabarkan deal tersebut memudar seiring dengan penolakan Pennant, berkembang spekulasi seperti yang dilansir Daily Mail, bahwasanya mantan pemain sayap Birmingham City tersebut belum menutup pintu bagi datangnya tawaran dari Madrid.
Menurut Marca, salah satu opsi yang sedang dipikirkan Madrid dalam memburu Young adalah dengan menyodorkan mantan kapten SV Hamburg, Rafael van der Vaart. Di sepanjang musim ini, kiprah gelandang menyerang Timnas Belanda berusia 25 tahun tersebut masih jauh dari kata menjanjikan. Rapor Van der Vaart yang baru mencetak empat (4) gol dari 15 partai disebut-sebut tidak sebanding dengan nilai fee yang kudu dikeluarkan Madrid (13 juta euro) saat memboyongnya dari Rothosen, 4 Agustus lalu.
Read more »
0 com

Serba Serbi Musik rock punk


Alternative Rock

Alternative rock (disebut juga musik alternatif atau hanya alternatif) adalah aliran musik rock yang muncul pada tahun 1980an dan menjadi sangat populer di tahun 1990. Nama "alternatif" ditemukan pada tahun 1980 untuk mendeskripsikan band-band punk rock yang tidak sesuai dengan aliran punk rock pada masanya. Sebagai jenis musik yang spesifik, rock alternatif mempunyai sub-aliran yang bervariasi, dari musik indie yang bermulai pada tahun 1980 dan menjadi populer pada tahun 1990; seperti indie rock, grunge, gothic rock, dan college rock. Aliran-aliran tersebut terkonsolidasi dengan ciri khasnya masing-masing.Walaupun aliran alternatif terhitung sebagai aliran rock, tapi beberapa sub-alirannya terpengaruh oleh musik rakyat, reggae, musik elektronik, dan jazz. Dalam periode tertentu, istilah rock alternatif digunakan untuk menyebut musik rock dari band underground pada tahun 1980an, punk rock (termasuk punk itu sendiri), dan untuk musik rock itu sendiri pada tahun 1990an dan 2000an.
Pengertian "Rock Alternatif"
Sebelum dikenal sebagai rock alternatif, aliran ini mempunayi banyak variasi nama yang umum digunakan. Pada tahun 1980an di Amerika Serikat, istilah yang umum digunakan adalah college rock (Rock Universitas). Istilah ini digunakan karena banyak mahasiswa yang menyukai aliran musik jenis ini pada zamannya. Di Inggris, istilah yang biasa digunakan adalah indie. Walaupun begitu, pada tahun 1985, istilah indie digunakan untuk menyebut sub-aliran dari alternatif, bukan sekedar penggantian istilah.Istilah "alternative rock" atau "rock alternatif" ditemukan pada tahun 1990. Walau begitu, istilah "alternatif" sempat muncul pada pertengahan 1980an, sebuah istilah untuk "musik baru" dan "pasca modern".
Penggunaan asli istilah ini sebenarnya lebih luas daripada yang kebanyakan dimengerti, yaitu dengan meliputi punk rock, New Wave, post-punk, dan bahkan musik pop, juga indie. Tahun 1991, ketika penambahan kategori musik alternatif di Penghargaan Grammy dan Penghargaan musik video MTV, akhirnya istilah "alternatif" menjadi populer dan digunakan secara luas, bersamaan dengan suksesnya Lollapalooza.
Keseluruhan "Alternative rock" secara esensial adalah istilah yang digunakan untuk menyebut musik underground yang muncul pada tahun 1980an. Band alternatif pada tahun 1980an umumnya dimainkan di klub-klub kecil, direkam untuk label indie, dan popularitasnya menyebar dari mulut ke mulut. Lirik yang digunakan dalam rock alternatif biasanya mengambil topik-topik sosial, seperti penggunaan obat terlarang, depresi, dan yang berhubungan dengan lingkungan. Hal ini merupakan sebuah pendekatan yang muncul akibat refleksi sosial dan ekonomi di Amerika Serikat dan Inggris pada tahun 1980an dan awal 1990an.
Pada awal tahun 1980an, beberapa stasiun radio kampus di Amerika Serikat memutarkan musik-musik rock alternatif. Rock alternatif kemudian menjadi populer di pertengahan 1980an. Namun stasiun radio komersial belum begitu mempedulikan aliran musik ini. Rock alternatif yang sering diputar di radio-radio Inggris, biasanya oleh DJ seperti John Peel, Richard Skinner, dan Annie Nightingale. Akhirnya, akhir tahun 1980an di Amerika Utara, stasiun radio komersial mulai memutar lagu-lagu rock alternatif, mengawali format radio modern rock. Diluar Amerika Utara, Double J, stasiun radio pemerintah di Sydney, Australia mulai menyiarkan rock alternatif.
Tahun 1990, Double J yang sekarang dikenal sebagai Triple J, mulai menyiarkan secara nasional. MTV juga memutar video alternatif pada tengah malam. Tahun 1986, MTV Amerika Serikat menyiarkan program musik alternatif tengah malam, 120 Minutes.
konser rock
konser rock
Walaupun band-band alternatif pada tahun 1980an tidak pernah membuat album yang spektakular, mereka menimbulkan pengaruh yang besar bagi para musisi tahun 80an. Album Nevermind yang dibuat oleh band Nirvana pada tahun 1991 membuat rock alternatif menjadi musik yang paling digemari dan membentuk kemapanan komersial aliran musik tersebut. Hasilnya, rock alternatif menjadi bentuk musik rock paling populer dalam satu dekade ini dan banyak band-band alternatif menghasilkan sukses besar.
Dalam satu dekade pertama pada abad ke 21, aliran musik rock terus berevolusi dari awal alternatif musik yang muncul pada tahun 1980an. Musik rock yang populer pada zaman sekarang, terlihat dari grup modern rock seperti Linkin Park. Iri hati karena mengetahui kenyataan bahwa aliran musik tersebut merupakan pengaruh dari rock alternatif, sebagian besar fans menyatakan ini adalah bagian dari aliran nu metal. Bagaimanapun juga, pada tahun 2004 alternatif rock mendapat popularitas dari artis seperti Modest Mouse dan Franz Ferdinand
Read more »
0 com

cerita asal mula musik rock punk


Stories of The PUNK

Dari tahun ke tahun, musik punk terus mengalami perubahan bentuk. Yang ngak berubah adalah semangat pemberontakannya. Pantas nggak Greeen Day disejajarkan dengan Sex istols, atau The Ramones? Gimana sejarahnya punk.alau melihat band-band punk sekarang, yang kebanyakan anggotanya masih muda, ga’ nyangka deh.. bahwa aliran musik yang satu ini umurnya sebaya dengan Billie Joe Armstrong. Malah kalau dirunut, cikal bakalnya sudah ada sejak orang tua kita masih imut-imut. Padahal citra punk kan serba muda.Punk sebetulnya punya dasar sikap yang sama dengan musik rock n’roll waktu lahir tahun 1955 dulu musik yang menjadi milik pribadi generasi muda yang memberontak terhadap kemapanan, yang di jamin bakal dijauhin dan disebelin para orang tua. Waktu rock mulai kehilangan greget dan dianggap jadi monoton, mulailah ada kasak-kusuk untuk bikin jenis musik baru yang ekstrim sebagai reaksi melawan kejenuhan tadi. Dari keresahan itulah aliran punk lahir.Tidak seperti heavymetal misalnya, punk lebih mengutamakan pelampiasan energi dan curhat daripada aspek teknis bermain musik. Pokoknya nggak usah jago-jago amat, pokoknya oke dan yang namanya unek-unek bisa keluar. Asal tahu aja, almarhum Sid Vicious dari Sex Pistols itu terkenal nggak bisa main. Tapi orang toh nggak memandang remeh dia. Malah dianggap cool.Nah, kelonggaran inilah yang menjadi daya tarik utama bagi para pemusik aliran ini. Mereka kebanyakan mulai dengan menonton band punk lain, kemudian mikir ini sih gampang, gue juga bisa. Lantas mereka pun ngumpul bareng, bikin lagu sendiri, dan berdiri deh satu band baru. Lantas kalau ternyata ada banyak band sealiran terpusat di satu lokasi atau kota, timbulllah apa yang disebut scene. Isinya ya orang-orang yang punya minat dan pandangan yang serupa, yang hobi nonton konser grup-grup lokal dan mendukung mereka, entah jadi promotor, bikin majalah (lazimnya disebut fanzine), mendirikan sebuah perusahaan rekaman kecil-kecilan untuk merilis single atau album grup-grup tersebut tersebut, atau sekedar rajin ikutan nongkrong. Lazimnya mereka ini saling kenal satu sama lain, dan yang aktif ya orangnya itu-itu lagi. Malah nggak jarang beberapa profesi di atas itu dirangkap oleh satu orang. Tangannya lebih dari dua kali !Nah, sejak lahirnya, gerakan punk merupakan rangkaian scene demi scene yang bermunculan di berbagai penjuru yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. Makanya, sejarah punk lebih enak diulas dengan membahas beberapa scene yang paling menonjol, satu demi satu.Sampai tahun 1950-an, jarang ada artis atau grup yang memainkan alat musik sendiri. Mereka biasanya cuma mengurusi masalah vokal, sedangkan urusan penulisan lagu dan memainkan instrumen biasanya dipercayakan kepada para ahlinya. Grup-grup vokal di masa itu praktis menurut saja pada kemauan perusahaan rekaman mereka.
Lantas pada tahun 1964, terjadi serbuan besar-besaran grup asal Inggris ke Amerika. Biang keladinya siapa lagi kalo bukan The Beatles. Melihat trend baru ini, remaja Amrik pun sadar bahwa sebuah grup sanggup mengerjakan semuanya sendiri.Maka di berbagai pelosok Amerika, anak-anak sekolah pun mulai membentuk band dan latihan di garasi rumah mereka sendiri. Karena mereka baru belajar, musiknya pun nggak bisa yang susah-susah amat. Mereka cenderung belajar dari grup-grup yang alirannya simple tapi nge-rock, macam Rolling Stones, The Who sampai Yardbirs, yang musiknya lebih menitik beratkan pada riff dan power, bukan struktur lagu yang njelimet.Maka ketika mereka pada gilirannya mulai menulis lagu sendiri, musik mereka mempunyai ciri khas sederhana tapi kenceng atau berpower, biasanya dengan satu riff gitar yang di ulang-ulang. Tapi meski bentuknya masih primitif, musik yang mereka ciptakan mampu menggugah semangat pendengar. Sesuai dengan tempat kelahirannya, orang memberi julukan untuk warna musik ini: Garage Rock (Rock Garasi).Grup-grup yang lahir contohnya The Standells, The Seeds, The Music Machine, The Leaves, dll. Dan dari sini lahirlah sound yang selanjutnya berkembang jadi Punk Rock.Memasuki dekade 70-an, punk mulai menemukan bentuknya seperti yang kita kenal sekarang. Ciri pemberontakannya makin kentara, dan segala rupa aksi panggung yang ugal-ugalan pun mulai muncul. Dari generasi pelopor punk ini ada dua nama yang boleh disebut paling menonjol yaitu MC 5 dan Iggy and The Stooges.Iggy adalah salah satu dari segelintir pentolan punk yang kiprahnya masih berlanjut sampai dasawarsa 90-an. Dan seiring dengan lahirnya generasi baru punk rock, namanya pun makin diakui sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam musik rock pada umumnya, punk khususnya.Tahun 1975 lahirlah beberapa grup musik baru seperti Blondie yang ngepop, Talkin Heads yang Avant Garde, The Voidoids yang berkutat dengan gitar, dan The Dead Boys yang nyeleneh. Dan ada The Ramones.Ramones punya citra seperti tokoh kartun. Empat anak jalanan asal Queens yang tampil gahar dengan dengan jaket kulit dan jeans belel, seperti geng. Gerombolan ini pancang mitos bahwa mereka satu keluarga. Pada tanggal 4 Juli 1976, Ramones mengadakan konser perdananya di Inggris. Entah itu tanggal keramat atau apa, konser mereka meninggalkan bekas yang dalam dalam diri kaum muda Inggris yang menyaksikannya. Konser itu disaksikan oleh para pentolan grup yang belakangan memotori kebangkitan punk di Inggris. Yaitu The Sex Pistols, The Damned, dan The Clash.Sex Pistols dan The Clash memasukkan aspek baru dalam perkembangan punk, yaitu protes sosial dan politik. Kedua grup ini menjadi penyambung lidah kaum muda Inggris yang frustasi. Mulailah mereka menyuarakan protes terhadap segala ketidakadilan yang mereka lihat sehari-hari. Cuma saja pendekatan mereka berbeda, sesuai latar belakang kehidupan masing-masing.Di tahun 1980-an, sementara era punk di Inggris datang dan pergi, dampaknya mulai terasa di berbagai penjuru dunia. Banyak negara yang menjawab tantangan Inggris dengan mencetak grup-grup punk yang belakangan juga menjadi legenda setempat. Irlandia, misalnya punya The Understones. Australia ada The Saints. Dan Selandia Baru muncul nama The Clean.Di Amerika gelombang terbaru pemusik punk AS bukan berasal dari New York, melainkan California. Generasi ini mendapat pengaruh yang sama besar dari The Ramones dan Sex Pistols. Tapi agak lain dengan ke dua mentornya itu, mereka sangat serius menghayati prinsip-prinsip dasar punk. Bagi mereka punk bukan sekedar aliran musik, melainkan juga identitas, gaya hidup, bahkan juga gaya hidup bahkan prinsip.Di selatan LA, tepatnya di Hermosa Beach, sebuah kelompok punk metal baru bernama Black Flag bela-belain nyewa gereja sebagai tempat latihan mereka. Tempat ini selanjutnya menjadi pusat kegiatan pecinta punk setempat. Grup-grup yang lahir disini lebih berhaluan keras daripada yang di Hollywood. Penampilan lebih brutal, dan liriknya lebih radikal. Disini lahirlah The Circle Jerk, Social Distortion, Suicidal Tendencies, dll.Sementara di San Francisco aliran punk lebih berpolitik. Di sini lahir nama-nama macam The Avengers, The Dils, dan yang paling dominan The Dead Kennedys. DK melancarkan protes keras terhadap berbagai hal mulai dari kebijaksanaan pemerintah sampai fasisme. Musik mereka berada di perbatasan antara punk yang melodius dan hardcore murni.New York juga melahirkan grup-grup yang belakangan memeperkaya musiknya dengan unsur lain, seperti Beasty Boys dan Sonic Youth. Dan ada juga The Misfits, yang mengungsi dari New Jersey.Pada akhir tahun 1980-an benih kebangkitan generasi kedua mulai ditanam di LA. Dulu sekali, awal dasawarsa ini, di San Fernando pernah berdiri sebuah grup band bernama Bad Religion. Kenggulan BR antara lain karena personilnya rata-rata memang “ngotak”. Saking inteleknya , lagu mereka sering memakai kata-kata yang membuat orang Amerika aja harus buka kamus.Bad Religion merupakan band yang memelopori berdirinya generasi baru grup-grup punk California. Sebut aja macam Dag Nasty, Pennywise, NOFX, dan belakangan tentu saja Rancid dan Offspring.Album Offspring Smash pada tahun 1995 mencatat rekor sebagai album independen paling laris dalam sejarah. Sementara Rancid juga mencatat angka penjualan yang sangat tinggi.Punk telah berhasil membuktikan kemandiriannya

Family Tree Punk

Ternyata punk itu punya banyak sodara. Mulai dari grincore, black metal, heavy metal, skinhead, bahkan sampe ska. Makanya, nggak usah heran kalo mereka kayak sohiban. Motto equality (persamaan hak) sangat dijunjung tinggi. Nah, biar nggak bingung, berikut ini pembagian keluarga punk menurut Oscar (sori musti pake nama samaran) salah seorang punkers sejati. Makin kenal, makin paham!

Punk Rock

Berkembang di Inggris sekitar tahun 70-an.
Musik: warna rock n’ roll masih kuat, masih bermelodi.
Contoh: Sex Pistol, The Clash, Ramones.
Ciri khas: Jaket kulit, rambut jabrik/acak-acakan, dan sepatu boots.

Street Punk

Musik mulai berdistorsi kasar dengan beat yang cepat.
Lirik vulgar dan penuh caci maki dan anarkis.
Contoh: Casualities, Circle Jerks, Eksploited.
Ciri khas: Jaket kulit plus aksesoris paku,celana jeans ketat, rambut jabrik, mohawk, boots doc mart/converse.
Bagian dari Street Punk : HardCore, HardSkin, Punk HardCore, Scoin Kore.

SkinHead

SkinHeads Sejati (Sayap Kiri/Lefties)
Menganut antifasis dan antirasis. Menyatakan perang dengan paham ultranasionalis sayap kanan dan sangat melindungi kaum minoritas termasuk kaum gay. Musik-musik minoritas kulit hitam seperti reggae, ska dan american soul dianggap sebagai keluarga besar mereka. Musik mereka banyak ragamnya karena banyak mencakup berbagai macam kelompok minoritas.
Contoh: The Bussiness, Sham 69, Angelic Upstrats.
Ciri: Tidak ada ciri khusus, namun kadang lewat sepatu boots dan bretel yang menunjukkan gol kelas menengah dan buruh.

Bagian dari SkinHeads :
TUTONS
SKA
SKACORE

Tutons

Masih keluarga besar Skinheads sayap kiri. Mereka adalah rakyat kelas bawah yang melakukan protes dengan cara berpakaian seperti orang kaya. Tumbuh di Inggris dan Jamaika. Musik mereka musik kulit hitam kayak rock steady dan reggae. Ngetop lewat aliran ska.
Ciri khas: Stelan jas, bretel, topi baret, celana panjang cingkrang (Rude Boy Style)
Contoh: The Selector, The Specials, Jimmy Cliff

Nazi SkinHeads (Sayap Kanan/Ultranasionalis)

Menganut paham rasis (benci kulit berwarna) dan antikaum minoritas adalah prinsipnya. Terkenal dengan istilah Boneheads. Berkembang pesat di Jerman dan negara Eropa daratan lainnya.
Contoh: Screwdriver, Brutal Attack, Blood and Honour.
Ciri khas: Kepala plontos (boneheads), kadang membaur dalam suporter sepak bola di Eropa (Giggs/Hooligans) untuk membuat kerusuhan.

Read more »
0 com

Reggae Is my Music


"Reggae Is Our Music"

"…Emancipate yourselves from mental slavery, none but ourselves can free our minds…."

Itulah lirik salah satu lagu Bob Marley berjudul Redemption Songs. Dalam banget maknanya untuk ngebangkitin bangsa Jamaika dari mental budak. Musik Bob Marley benar-benar musik pembebasan kaum tertindas.Ngomongin Bob Marley, siapa sih yang enggak kenal dia? Sang legenda reggae dari Jamaika yang paling berpengaruh dalam perkembangan reggae di dunia, termasuk di Tanah Air. Lantunan lagu yang melodik membuat kita terhanyut, bersatu, dan bersantai ria dalam irama yang disebut reggae.Kata reggae diduga berasal logat Afrika, yaitu ragged, yang artinya gerak atau entakan badan pada orang yang menari dengan iringan musik seperti ska. Irama reggae dipengaruhi R&B, soul, rock, ritmik Afro-Caribbean (calypso, merengue, rhumba), dan musik rakyat Jamaika yang disebut Ment. Musik yang kaya irama Afrika.Irama musik yang dianggap pendahulu reggae adalah ska dan rocksteady. Jenis musik yang sarat dengan pengaruh musik Afro-Amerika. Cara mengocok gitarnya kebalik (up-strokes), memberi tekanan nada pada nada lemah (syncopated) dan ketukan drum multiritmik yang edan punya.

Reggae Indonesia

Reggae berevolusi bersama musik Jamaika lainnya, termasuk ska, rocksteady, dub, dancehall, R&B, dan ragga. Kayak yang dijelasin musisi reggae, Ras Muhammad, pas tim MuDA SMAN 54 Jakarta wawancara. "Reggae itu ada beberapa genre, di antaranya ada roots reggae, dub, dancehall, dan loversragg," ujarnya.Perkembangan musik reggae di Tanah Air sudah makin meluas ke berbagai kalangan, terutama anak-anak muda. Banyak juga dari mereka yang sudah bikin band-band beraliran musik ini dan mengikuti style-style reggae.Beberapa grup band reggae yaitu Steven & Coconouttreez yang populer membawakan Welcome to My Paradise dan Tony Q Rastafara dengan Don’t Worry-nya. Ada lagi Ras Muhammad dengan dancehall reggae, yang bisa kita dengar lewat albumnya, Reggae Ambassador."Musik reggae saya tak seperti kebanyakan reggae di Tanah Air. Saya ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa reggae terus berkembang sejak wafatnya Bob Marley. Anda dapat menyebut musik saya: dancehall reggae atau digital roots," kata Ras Muhammad.Ras pernah tinggal di New York, AS 12 tahun, dan melihat langsung komunitas reggae di Brooklyn, New York. "Saya juga melanglang menyambangi komunitas-komunitas reggae di Afrika, Amerika Latin, Inggris, Belanda, Jepang dan Jerman," katanya.

"Ternyata saya melihat kultur reggae begitu beragam.Reggae menyatukan semua orang, semua agama, dan di reggae kita lebih toleran karena keberagaman dijaga," lanjut pria kelahiran Jakarta, 29 Oktober 1982.

Pandangan orang

Sampai sekarang penggemar reggae sukadiidentikkan sebagai pemakai ganja, pergaulan bebas, dan ada pula yang menganggap Rastaman itu orang edan berambut dreadlock, gimbal.Waduh, semua itu salah banget man, sebenarnya ganja di Afrika digunakan buat "sesaji" ritual. Kalau rambut gimbal, itu memang sudah ciri khas orang Afrika.
"Bukan berarti orang yang suka musik reggae harus make ganja atau digimbal, tetapi semangatnya dalam membangun keterpurukan mental," tutur Mas Tony Q dalam wawancara eksklusif dengan Tim MuDA SMA 54 Jakarta di Warung Apresiasi, kawasan Blok M, Jakarta Selatan.Kata Mas Tony, musik reggae itu ya kehidupan sendiri. Di dalamnya ada misi perjuangan, membela yang tertindas, kebersamaan, juga cinta. "Kita ingin menumbuhkan semangat kepada semua orang yang membutuhkan. Get up stand up for your right. Get up stand up don’t give up the fight," katanya.

Nah, buat lo pada yang belum kenal sama musik ini, coba deh lo dengerin. Lo rasain nikmatnya ini musik, jadi enggak perlu make ganja ato ngegimbal rambut, lo sudah bisa nikmatin musik ini dan dijamin lo bakal ngerasa damai dan nyaman karena alunan musik ini. Satu hal lagi, musik reggae itu bebas kok dinikmatin sama siapa aja. Yoo... Maaan…!!! (Tim SMAN 54 Jakarta)
Read more »
0 com

Reggae Music


Riwayat Reggae

Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak
ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera
musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang
mengena dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan.
[color=yellow]Kata reggae diduga berasal dari pengucapan dalam logat Afrika dari kata
ragged (gerak kagokseperti hentak badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae sendiri dipengaruhi elemen musik R&B yang lahir di New Orleans,[color=blue]Soul, Rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) dan musik rakyat Jamaika yang disebut Mento, yang kaya dengan irama Afrika. Irama musik yang banyak dianggap menjadi pendahulu reggae adalah Ska dan Rocksteady, bentuk interpretasi musikal R&B yang berkembang di Jamaika yang sarat dengan pengaruh
musik Afro-Amerika. Secara teknis dan musikal banyak eksplorasi yang dilakukan
musisi Ska, diantaranya cara mengocok gitar secara terbalik (up-strokes),
memberi tekanan nada pada nada lemah (syncopated) dan ketukan drum multi-ritmik yang kompleks. Teknik para musisi Ska dan Rocsteady dalam memainkan alat musik, banyak
ditirukan oleh musisi reggae. Namun tempo musiknya jauh lebih lambat dengan
dentum bas dan rhythm guitar lebih menonjol. Karakter vokal biasanya berat
dengan pola lagu seperti pepujian (chant), yang dipengaruhi pula irama tetabuhan, cara menyanyi dan mistik dari Rastafari. Tempo musik yang lebih lambat, pada saatnya mendukung penyampaian pesan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi religi
Rastafari dan permasalahan sosial politik humanistik dan universal. Album Catch A Fire (1972) yang diluncurkan Bob Marley and The Wailers dengan cepat melambungkan reggae hingga ke luar Jamaika. Kepopuleran reggae di Amerika Serikat ditunjang pula oleh film The Harder They Come (1973) dan dimainkannya irama reggae oleh para
pemusik kulit putih seperti Eric Clapton, Paul Simon, Lee Scratch Perry
dan UB40. Irama reggae pun kemudian mempengaruhi aliran-aliran musik pada
dekade setelahnya, sebut saja varian reggae hip hop, reggae rock, blues, dan
sebagainya.Akar musikal reggae terkait erat dengan tanah yang melahirkannya: Jamaika. Saat ditemukan oleh Columbus pada abad ke-15, Jamaika adalah sebuah pulau yang dihuni
oleh suku Indian Arawak. Nama Jamaika sendiri berasal dari kosa kata Arawak
xaymaca yang berarti pulau hutan dan air. Kolonialisme Spanyol dan Inggris
pada abad ke-16 memunahkan suku Arawak, yang kemudian digantikan oleh ribuan
budak belian berkulit hitam dari daratan Afrika. Budak-budak tersebut dipekerjakan pada industri gula dan perkebunan yang bertebaran di sana. Sejarah kelam penindasan antar manusia pun dimulai dan berlangsung hingga lebih dari dua abad. Baru pada tahun 1838 praktek perbudakan dihapus, yang diikuti pula dengan melesunya perdagangan gula
dunia. Di tengah kerja berat dan ancaman penindasan, kaum budak Afrika memelihara
keterikatan pada tanah kelahiran mereka dengan mempertahankan tradisi. Mereka
mengisahkan kehidupan di Afrika dengan nyanyian (chant) dan bebunyian
(drumming) sederhana. Interaksi dengan kaum majikan yang berasal dari Eropa pun
membekaskan produk silang budaya yang akhirnya menjadi tradisi folk asli
Jamaika. Bila komunitas kulit hitam di Amerika atau Eropa dengan cepat luntur
identitas Afrika mereka, sebaliknya komunitas kulit hitam Jamaika masih
merasakan kedekatan dengan tanah leluhur. Sejarah gerakan penyadaran identitas
kaum kulit hitam, yang kemudian bertemali erat dengan keberadaan musik
reggae, mulai disemai pada awal abad ke-20. Adalah Marcus Mosiah Garvey,
seorang pendeta dan aktivis kulit hitam Jamaika, yang melontarkan gagasan
Afrika untuk Bangsa Afrika dan menyerukan gerakan repatriasi
(pemulangan kembali)
Read more »
0 com

Sejarah Reggae

Sejarah Musik Reggae

Said he was a buffalo soldier win the war for America

Buffalo soldier, dreadlock rasta

Fighting on arrival, fighting for survival

Driven from the mainland to the heart of the caribbean...

Anda pasti kenal lirik lagu di atas. Lagu berjudul "Buffalo Soldier" ini memang sudah sangat akrab di telinga kita. Lagu dengan beat slow dan membawa kita hanyut dalam goyangan gemulai ini pasti mengingatkan kita terhadap dua hal, reggae dan Bob Marley.
Ya, Bob Marley memang layak disandingkan dengan reggae. Pria kulit hitam yang mempunyai nama asli Robert Nesta Marley ini adalah pelopor musik reggae dan yang memppopulerkannya ke kancah musik internasional.

Munculnya Reggae

Musik reggae memang mempunyai sejarah yang panjang. reggae tidak hanya sebuah jenis musik bertempo lambat dengan vokal berat saja, tapi juga berhubungan erat dengan kepercayaan, identitas, dan simbol perlawanan terhadap penindasan.Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady ke irama musik baru yang bertempo lebih lambat. Boleh jadi, peralihan itu terjadi lantaran ingar-bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang cocok dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan.
Kata “reggae” diduga berasal dari pengucapan dalam logat Afrika dari kata “ragged” (gerak kagok–seperti entakan badan orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae sendiri dipengaruhi elemen musik R&B yang lahir di New Orleans, soul, rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba), dan musik rakyat Jamaika yang disebut Mento yang kaya dengan irama Afrika.Musik reggae sendiri pada awalnya lahir dari jalanan Getho (perkampungan kaum Rastafaria) di Kingston, ibu kota Jamaika. Itulah yang menyebabkan gaya rambut gimbal menghiasi para musisi reggae awal dan lirik-lirik lagu reggae sarat dengan muatan ajaran Rastafari, yakni kebebasan, perdamaian, dan keindahan alam, serta gaya hidup bohemian.Masuknya reggae sebagai salah satu unsur musik dunia yang juga mempengaruhi banyak musisi dunia lainnya, dan membuat aliran musik satu ini menjadi barang konsumsi publik dunia. Gaya rambut gimbal atau dreadlock serta lirik-lirik ‘Rasta’ dalam lagunya pun menjadi konsumsi publik. Dengan kata lain, dreadlock dan ajaran Rasta telah menjadi produksi pop, menjadi budaya pop, seiring berkembangnya musik reggae sebagai sebuah musik pop.

Musik dari Jamaika

Akar musikal reggae terkait erat dengan tanah yang melahirkannya, Jamaika. Saat ditemukan oleh Columbus pada abad ke-15, Jamaika adalah sebuah pulau yang dihuni oleh suku Indian Arawak. Nama Jamaika sendiri berasal dari kosa kata Arawak “xaymaca” yang berarti “pulau hutan dan air”. Kolonialisme Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 memusnahkan suku Arawak, yang kemudian digantikan oleh ribuan budak belian berkulit hitam dari daratan Afrika. Budak-budak tersebut dipekerjakan pada industri gula dan perkebunan yang bertebaran di sana. Pada tahun 1838, praktek perbudakan itu dihapus dan diikuti dengan melesunya perdagangan gula dunia.Di tengah kerja berat dan ancaman penindasan, kaum budak Afrika memelihara keterikatan pada tanah kelahiran mereka dengan mempertahankan tradisi. Mereka mengisahkan kehidupan di Afrika dengan nyanyian (chant) dan bebunyian sederhana. Interaksi dengan kaum majikan yang berasal dari Eropa pun membekaskan produk silang budaya yang akhirnya menjadi tradisi folk asli Jamaika. Bila komunitas kulit hitam di Amerika atau Eropa dengan cepat luntur identitas Afrika mereka, sebaliknya komunitas kulit hitam Jamaika masih merasakan kedekatan dengan tanah leluhur.Musik Afrika pada dasarnya ada di kehidupan sehari-hari masyarakat Jamaika, baik itu di jalan, bus, tempat umum, tempat kerja atau rumah yang menjadi penyemangat saat kondisi sulit sehingga memberikan kekuatan dan pesan tersendiri. Hasilnya, reggae musik bukan cuma memberikan relaksasi, tapi juga membawa pesan cinta, damai, kesatuan dan keseimbangan serta mampu mengendurkan ketegangan.

Bob Marley, Nabi Para Rasta

Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada Februari 1945 di St. Ann, Jamaika, Bob Marley berayahkan seorang kulit putih dan ibu kulit hitam. Pada tahun 1950-an Bob beserta keluarganya pindah ke ibu kota Jamaika, Kingston. Di kota inilah obsesinya terhadap musik sebagai profesi menemukan pelampiasan. Waktu itu Bob Marley banyak mendengarkan musik R&B dan soul, yang kemudian hari menjadi inspirasi irama reggae. Selain itu di jalanan Kingston dia menikmati entakan irama Ska dan Steadybeat dan kemudian mencoba memainkannya sendiri di studio-studio musik kecil di Kingston.Bersama Peter McIntosh dan Bunny Livingston, Bob membentuk The Wailing Wailers yang mengeluarkan album perdana di tahun 1963 dengan hit “Simmer Down”. Lirik lagu mereka banyak berkisah tentang “rude boy”, anak-anak muda yang mencari identitas diri dengan menjadi berandalan di jalanan Kingston.The Wailing Wailers bubar pada pertengahan 1960-an dan sempat membuat Bob Marley patah arang sehingga memutuskan untuk berkelana ke Amerika. Pada bulan April 1966, Bob kembali ke Jamaika, bertepatan dengan kunjungan HIM Haile Selassie I(Raja Ethiopia) ke Jamaika untuk bertemu penganut Rastafari. Karisma sang raja membawa Bob menjadi penghayat ajaran Rastafari pada tahun 1967, dan bersama The Wailer, band barunya yang dibentuk setahun kemudian bersama lawas Mc Intosh dan Livingston, dia menyuarakan nilai-nilai ajaran Rasta melalui reggae. Penganut Rastafari lantas menganggap Bob menjalankan peran profetik sebagaimana para nabi, menyebarkan inspirasi dan nilai Rasta melalui lagu-lagunya.
The Wailers bubar di tahun 1971, dan Bob segera membentuk band baru bernama Bob Marley and The Wailers. Tahun 1972 album Catch A Fire diluncurkan. Menyusul kemudian Burning (1973–berisi hits “Get Up, Stand Up” dan “ I Shot the Sheriff” yang dipopulerkan Eric Clapton), Natty Dread (1975), Rastaman Vibration (1976) dan Uprising (1981) yang makin memantapkan reggae sebagai musik mainstream dengan Bob Marley sebagai icon-nya.Pada tahun 1978, Bob Marley menerima Medali Perdamaian dari PBB sebagai penghargaan atas upayanya mempromosikan perdamaian melalui lagu-lagunya. Sayang, kanker mengakhiri hidupnya pada 11 Mei 1981 saat usia 36 tahun di ranjang rumah sakit Miami, AS, seusai menggelar konser internasional di Jerman. Sang Nabi kaum Rasta telah berpulang, namun inspirasi humanistiknya tetap mengalun sepanjang zaman.

Dreadlock

Selain Bob Marley dan Jamaika, rambut gimbal atau lazim disebut “dreadlocks” menjadi titik perhatian dalam fenomena reggae. Saat ini dreadlock selalu diidentikkan dengan musik reggae, sehingga secara kaprah orang menganggap para pemusik reggae yang melahirkan gaya rambut bersilang-belit itu. Padahal jauh sebelum menjadi gaya, rambut gimbal telah menyusuri sejarah panjang.Pada tahun 1914 Marcus Garvey memperkenalkan gerakan religi dan penyadaran identitas kulit hitam lewat UNIA. Aspek spiritualitas rambut gimbal dalam agama Hindu dan kaum tribal Afrika diadopsi oleh pengikut gerakan ini. Mereka menyebut diri sebagai kaum “Dread” dan menyatakan memiliki rasa gentar dan hormat (dread) pada Tuhan. Rambut gimbal para Dread inilah yang memunculkan istilah dreadlocks—tatanan rambut para Dread. Saat Rastafarianisme menjadi religi yang dikukuhi kelompok ini pada tahun 1930-an, dreadlocks juga menjelma menjadi simbolisasi sosial Rasta (pengikut ajaran Rastafari).Simbolisasi ini kental terlihat ketika pada tahun 1930-an Jamaika mengalami gejolak sosial dan politik. Kelompok Rasta merasa tidak puas dengan kondisi sosial dan pemerintah yang ada, lantas membentuk masyarakat tersendiri yang tinggal di tenda-tenda yang didirikan di antara semak belukar. Mereka memiliki tatanan nilai dan praktek keagamaan tersendiri, termasuk memelihara rambut gimbal. Pada pertengahan tahun 1960-an perkemahan kelompok Rasta ditutup dan mereka dipindahkan ke daerah Kingston, seperti di Kota Trench Town dan Greenwich, tempat di mana musik reggae lahir pada tahun 1968.Ketika musik reggae memasuki arus besar musik dunia pada akhir tahun 1970-an, sosok Bob Marley dan rambut gimbalnya menjadi icon baru yang dipuja-puja. Dreadlock dengan segera menjadi sebuah tren baru dalam tata rambut dan cenderung lepas dari nilai spiritualitasnya. Apalagi ketika pada tahun 1990-an dreadlocks mewarnai penampilan para musisi rock dan menjadi bagian dari fashion dunia.Meski cenderung lebih identik dengan fashion, secara mendasar dreadlock tetap menjadi bentuk ungkap semangat anti kekerasan, anti kemapanan dan solidaritas untuk kalangan minoritas tertindas.

Reggae di Indonesia

Di Indonesia, beberapa nama yang terkenal dalam dunia musik reggae antara lain Tony Q, Steven & Coconut Treez, Joni Agung (Bali), New Rastafara, dan Heru ’Shaggy Dog’ (Yogyakarta). Banyak yang tidak tahu sejarah reggae di negeri ini. Bahkan musisi reggae di sini mungkin yang kurang paham jika ditanya siapa band awal mula yang pertama kali memainkan musik reggae.Sekitar tahun 1986, musik reggae mulai dikumandangkan di Indonesia. Band itu adalah Black Company, sebuah band dengan genre reggae. Kemudian beberapa tahun kemudian muncul Asian Roots yang merupakan turunan dari band sebelumnya. Lantas ada pula Asian Force, Abresso dan Jamming.Kini keberadaan musik reggae di Indonesia terkesan tersingkirkan. Apalagi kesan yang diperoleh ketika seseorang melihat penampilan para musisi reggae yang terkesan urakan dan tak mau tahu dengan kondisi orang lain. Bahkan, ada idiom yang hingga kini membuatnya semakin tersingkir adalah: reggae identik dengan narkoba.Entah idiom itu benar atau tidak. Yang jelas, kesan minor yang diterimanya turut serta menenggelamkan reggae di antara musik-musik baru di dunia.
Read more »
0 com

Memahami Apakah Musik Underground itu


Memahami underground

Peristiwa berdarah saat launching album Beside bertitel Againts Yourself’ Sabtu 9 Februari 2008 di AACC,Bandung, yang menewaskan 11 orang ABG membuat komunitas underground makin tersudut.Peristiwa itu seolah menjadi bom waktu buat komunitas underground yang sejak awal selalu diberikan label negatif, salah satunya adalah musik setan. Entah siapa dan apa penyebabnya sehingga komunitas musik underground begitu dibenci. Setiap peristi wayang terjadi dalam penampilan band-band underground, komunitas ini selalu dikaitkan.Perlakukan ini jelas tidak adil. Jika dibandingkan dengan musik aliran lain, komunitas underground lebih berani mengeluarkan karakteristiknya, baik dalam bermusik maupaun kehidupan sehari-hari.
Inilah yang membuat minuman keras dan narkoba lebih mudah diidentikan terhadap komunitas underground.Padahal, sisi negatif, termasuk tewasnya penonton, tidak melulu menjadi milik komunitas underground.Komunitas-komunitas lain seperti dangdut, pop dan cinta juga mengalami hal ini. Ingat, sejumlah penonton yang hadir dalam konser Ungu dan Sheila on 7 juga tewas.Yang menjadi tidak adil, kejadian pada band-band tersebut langsung dilimpahkan ke panitia, sedangkan Ungu dan Sheila on 7 tetap jadi idola hingga kini. Sedangkan kasus yang terjadi di AACC, Bandung, tidak hanya menyeret panitia, band yang bersangkutan bahkan komunitas underground ikut-ikutan jelek.
Yang patut disayangkan, banyak sekali masyarakat yang menilai buruk komunitas underground tanpa tahu sejarah terbentuknya komunitas ini. Underground adalah idealisme dalam bermusik ditambah dengan nilai-nilai perfeksionis didalamnya.
Di luar negeri, komunitas underground dipercaya lahir sejak tahun 1960-an yang identik dengan aliran psychedelic music dengan punk rock, hardcore, hip hop, alternative rock, black metal dan death metal, hadir sebagai pengikut.
Band-band aliran psychedelic music sendiri adalah MC5, The Litter, Iron Butterfly. Yang perlu dicatat,band-band legendaris seperti The Beatles, Strawberry Alarm Clock, Pink Floyd, Sopwith Camel hingga The Doors juga memainkan teknik psychedelic music, hanya lebih ringan. Sedangkan di Indonesia, embrio musik cadas ini diberikan oleh band-band rock era 70-an seperti God Bless,Gang Pegangsaan, Gypsy, Giant Step, Super Kid, Terncem, AKA/SAS, dan lainnya.Tahun 1980-an, musik underground melalui aliran thrash metal merajai dunia. Pionirnya adalah Slayer,Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kuatnya gelombang thrash metal membuat musisi Indonesia seperti mempunyai kiblat baru. Band-band seperti Sucker Head, Roxx, Commotion Of Resources, Painfull Death, Rotor, disebut sebagai pelopor underground Indonesia.Belakangan, muncul band-band underground yang lebih ‘menjual’ seperti Koil, Betrayer, Tengkorak hingga Getah.Musisi underground pun tidak harus selalu diidentikkan dengan kekerasan atau sejenisnya. Contohnya adalah gitaris cantik Prisa. Cewek yang jago main gitar ini merintis karir bermusik dengan beberapa band
beraliran metal, seperti Zala dan Deadsquad. Namun, Prisa, yang juga memperkuat band Morning Star, akhirnya mengawali ketenarannya dengan J-Rock,band plagiat musik Japanese Rock, L’arc en Ciel. Namun, Prisa sempat kembali menjadi musisi underground
dengan memperkuat band Metal Killed by Butterfly di bazzar SMUN 2 Bandung.(Rizky DP)
Read more »
0 com

Riwayat Musik Reggae


Merentang Riwayat Reggae


Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang mengena dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan.
Kata “reggae” diduga berasal dari pengucapan dalam logat Afrika dari kata “ragged” (gerak kagok–seperti hentak badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae sendiri dipengaruhi elemen musik R&B yang lahir di New Orleans, Soul, Rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) dan musik rakyat Jamaika yang disebut Mento, yang kaya dengan irama Afrika. Irama musik yang banyak dianggap menjadi pendahulu reggae adalah Ska dan Rocksteady, bentuk interpretasi musikal R&B yang berkembang di Jamaika yang sarat dengan pengaruh musik Afro-Amerika. Secara teknis dan musikal banyak eksplorasi yang dilakukan musisi Ska, diantaranya cara mengocok gitar secara terbalik (up-strokes), memberi tekanan nada pada nada lemah (syncopated) dan ketukan drum multi-ritmik yang kompleks.
Teknik para musisi Ska dan Rocsteady dalam memainkan alat musik, banyak ditirukan oleh musisi reggae. Namun tempo musiknya jauh lebih lambat dengan dentum bas dan rhythm guitar lebih menonjol. Karakter vokal biasanya berat dengan pola lagu seperti pepujian (chant), yang dipengaruhi pula irama tetabuhan, cara menyanyi dan mistik dari Rastafari. Tempo musik yang lebih lambat, pada saatnya mendukung penyampaian pesan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi religi Rastafari dan permasalahan sosial politik humanistik dan universal.Album “Catch A Fire” (1972) yang diluncurkan Bob Marley and The Wailers dengan cepat melambungkan reggae hingga ke luar Jamaika. Kepopuleran reggae di Amerika Serikat ditunjang pula oleh film The Harder They Come (1973) dan dimainkannya irama reggae oleh para pemusik kulit putih seperti Eric Clapton, Paul Simon, Lee ‘Scratch’ Perry dan UB40. Irama reggae pun kemudian mempengaruhi aliran-aliran musik pada dekade setelahnya, sebut saja varian reggae hip hop, reggae rock, blues, dan sebagainya.

Jamaika

Akar musikal reggae terkait erat dengan tanah yang melahirkannya: Jamaika. Saat ditemukan oleh Columbus pada abad ke-15, Jamaika adalah sebuah pulau yang dihuni oleh suku Indian Arawak. Nama Jamaika sendiri berasal dari kosa kata Arawak “xaymaca” yang berarti “pulau hutan dan air”. Kolonialisme Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 memunahkan suku Arawak, yang kemudian digantikan oleh ribuan budak belian berkulit hitam dari daratan Afrika. Budak-budak tersebut dipekerjakan pada industri gula dan perkebunan yang bertebaran di sana. Sejarah kelam penindasan antar manusia pun dimulai dan berlangsung hingga lebih dari dua abad. Baru pada tahun 1838 praktek perbudakan dihapus, yang diikuti pula dengan melesunya perdagangan gula dunia.Di tengah kerja berat dan ancaman penindasan, kaum budak Afrika memelihara keterikatan pada tanah kelahiran mereka dengan mempertahankan tradisi. Mereka mengisahkan kehidupan di Afrika dengan nyanyian (chant) dan bebunyian (drumming) sederhana. Interaksi dengan kaum majikan yang berasal dari Eropa pun membekaskan produk silang budaya yang akhirnya menjadi tradisi folk asli Jamaika. Bila komunitas kulit hitam di Amerika atau Eropa dengan cepat luntur identitas Afrika mereka, sebaliknya komunitas kulit hitam Jamaika masih merasakan kedekatan dengan tanah leluhur.Sejarah gerakan penyadaran identitas kaum kulit hitam, yang kemudian bertemali erat dengan keberadaan musik reggae, mulai disemai pada awal abad ke-20. Adalah Marcus Mosiah Garvey, seorang pendeta dan aktivis kulit hitam Jamaika, yang melontarkan gagasan “Afrika untuk Bangsa Afrika…” dan menyerukan gerakan repatriasi (pemulangan kembali) masyarakat kulit hitam di luar Afrika. Pada tahun 1914, Garvey mendirikan Universal Negro Improvement Association (UNIA), gerakan sosio-religius yang dinilai sebagai gerakan kesadaran identitas baru bagi kaum kulit hitam.Pada tahun 1916-1922, Garvey meninggalkan Jamaika untuk membangun markas UNIA di Harlem, New York. Konon sampai tahun 1922, UNIA memiliki lebih dari 7 juta orang pengikut. Antara tahun 1928-1930 Garvey kembali ke Jamaika dan terlibat dalam perjuangan politik kaum hitam dan pada tahun 1929 Garvey meramalkan datangnya seorang raja Afrika yang menandai pembebasan ras kulit hitam dari penindasan kaum Babylon (sebutan untuk pemerintah kolonial kulit putih—merujuk pada kisah kitab suci tentang kaum Babylon yang menindas bangsa Israel). Ketika Ras Tafari Makonnen dinobatkan sebagai raja Ethiopia di tahun 1930, yang bergelar HIM Haile Selassie I, para pengikut ajaran Garvey menganggap Ras Tafari sebagai sosok pembebas itu. Mereka juga menganggap Ethiopia sebagai Zion—tanah damai bak surga—bagi kaum kulit hitam di dalam maupun luar Afrika. Ajaran Garvey pun mewujud menjadi religi baru bernama Rastafari dengan Haile Selassie sebagai sosok yang di-tuhan-kan
ada bulan April 1966, karena ancaman pertentangan sosial yang melibatkan kaum Rasta, pemerintah Jamaika mengundang HIM Haile Selassie I untuk berkunjung menjumpai penghayat Rastafari. Dia menyampaikan pesan menyediakan tanah di Ethiopia Selatan untuk repatriasi Rasta. Namun Haile Selassie juga menekankan perlunya Rasta untuk membebaskan Jamaika dari penindasan dan ketidak adilan dan menjadikan Rastafari sebagai jalan hidup, sebelum mereka eksodus ke Ethiopia.Tahun-tahun setelahnya kredo gerakan tersebut makin tersebar luas, yakni “Bersatunya kemanusiaan adalah pesannya, musik adalah modus operandinya, perdamaian di bumi seperti halnya di surga (Zion) adalah tujuannya, memperjuangkan hak adalah caranya dan melenyapkan segala bentuk penindasan fisik dan mental adalah esensi perjuangannya.” Ketika Bob Marley menjadi pengikut Rastafari di tahun 1967 dan setahun kemudian disusul kelahiran reggae, maka modus operandi penyebaran ajaran Rastafari pun ditemukan: reggae!

Bob Marley, Nabi Para Rasta

Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada Februari 1945 di St. Ann, Jamaika, Bob Marley berayahkan seorang kulit putih dan ibu kulit hitam. Pada tahun 1950-an Bob beserta keluarganya pindah ke ibu kota Jamaika, Kingston. Di kota inilah obsesinya terhadap musik sebagai profesi menemukan pelampiasan. Waktu itu Bob Marley banyak mendengarkan musik R&B dan soul, yang kemudian hari menjadi inspirasi irama reggae, melalui siaran radio Amerika. Selain itu di jalanan Kingston dia menikmati hentakan irama Ska dan Steadybeat dan kemudian mencoba memainkannya sendiri di studio-studio musik kecil di Kingston.Bersama Peter McIntosh dan Bunny Livingston, Bob membentuk The Wailing Wailers yang mengeluarkan album perdana di tahun 1963 dengan hit “Simmer Down”. Lirik lagu mereka banyak berkisah tentang “rude bwai” (rude boy), anak-anak muda yang mencari identitas diri dengan menjadi berandalan di jalanan Kingston. The Wailing Wailers bubar pada pertengahan 1960-an dan sempat membuat penggagasnya patah arang hingga memutuskan untuk berkelana di Amerika. Pada bulan April 1966 Bob kembali ke Jamaika, bertepatan dengan kunjungan HIM Haile Selassie I —raja Ethiopia– ke Jamaika untuk bertemu penganut Rastafari. Kharisma sang raja membawa Bob menjadi penghayat ajaran Rastafari pada tahun 1967, dan bersama The Wailer, band barunya yang dibentuk setahun kemudian bersama dua personil lawas Mc Intosh dan Livingston, dia menyuarakan nilai-nilai ajaran Rasta melalui reggae. Penganut Rastafari lantas menganggap Bob menjalankan peran profetik sebagaimana para nabi, menyebarkan inspirasi dan nilai Rasta melalui lagu-lagunya.The Wailers bubar di tahun 1971, namun Bob segera membentuk band baru bernama Bob Marley and The Wailers. Tahun 1972 album Catch A Fire diluncurkan. Menyusul kemudian Burning (1973–berisi hits “Get Up, Stand Up” dan “ I Shot the Sheriff” yang dipopulerkan Eric Clapton), Natty Dread (1975), Rastaman Vibration (1976) dan Uprising (1981) yang makin memantapkan reggae sebagai musik mainstream dengan Bob Marley sebagai ikonnya.

Pada tahun 1978, Bob Marley menerima Medali Perdamaian dari PBB sebagai penghargaan atas upayanya mempromosikan perdamaian melalui lagu-lagunya. Sayang, kanker mengakhiri hidupnya pada 11 Mei 1981 saat usia 36 tahun di ranjang rumah sakit Miami, AS, seusai menggelar konser internasional di Jerman. Sang Nabi kaum Rasta telah berpulang, namun inspirasi humanistiknya tetap mengalun sepanjang zaman.

One Love! One Heart!
Lets get together and feel all right.
Hear the children cryin (One Love!);
Hear the children cryin (One Heart!)
(One Love / People Get Ready)

Dreadlock
Selain Bob Marley dan Jamaika, rambut gimbal atau lazim disebut “dreadlocks” menjadi titik perhatian dalam fenomena reggae. Saat ini dreadlock selalu diidentikkan dengan musik reggae, sehingga secara kaprah orang menganggap bahwa para pemusik reggae yang melahirkan gaya rambut bersilang-belit (locks) itu. Padahal jauh sebelum menjadi gaya, rambut gimbal telah menyusuri sejarah panjang.Konon, rambut gimbal sudah dikenal sejak tahun 2500 SM. Sosok Tutankhamen, seorang fir’aun dari masa Mesir Kuno, digambarkan memelihara rambut gimbal. Demikian juga Dewa Shiwa dalam agama Hindu. Secara kultural, sejak beratus tahun yang lalu banyak suku asli di Afrika, Australia dan New Guinea yang dikenal dengan rambut gimbalnya. Di daerah Dieng, Wonosobo hingga kini masih tersisa adat memelihara rambut gimbal para balita sebagai ungkapan spiritualitas tradisional.Membiarkan rambut tumbuh memanjang tanpa perawatan, sehingga akhirnya saling membelit membentuk gimbal, memang telah menjadi bagian praktek gerakan-gerakan spiritualitas di kebudayaan Barat maupun Timur. Kaum Nazarit di Barat, dan para penganut Yogi, Gyani dan Tapasvi dari segala sekte di India, memiliki rambut gimbal yang dimaksudkan sebagai pengingkaran pada penampilan fisik yang fana, menjadi bagian dari jalan spiritual yang mereka tempuh. Selain itu ada kepercayaan bahwa rambut gimbal membantu meningkatkan daya tahan tubuh, kekuatan mental-spiritual dan supernatural. Keyakinan tersebut dilatari kepercayaan bahwa energi mental dan spiritual manusia keluar melalui ubun-ubun dan rambut, sehingga ketika rambut terkunci belitan maka energi itu akan tertahan dalam tubuh.Seiring dimulainya masa industrial pada abad ke-19, rambut gimbal mulai sulit diketemukan di daerah Barat. Sampai ketika pada tahun 1914 Marcus Garvey memperkenalkan gerakan religi dan penyadaran identitas kulit hitam lewat UNIA, aspek spiritualitas rambut gimbal dalam agama Hindu dan kaum tribal Afrika diadopsi oleh pengikut gerakan ini. Mereka menyebut diri sebagai kaum “Dread” untuk menyatakan bahwa mereka memiliki rasa gentar dan hormat (dread) pada Tuhan. Rambut gimbal para Dread iniah yang memunculkan istilah dreadlocks—tatanan rambut para Dread. Saat Rastafarianisme menjadi religi yang dikukuhi kelompok ini pada tahun 1930-an, dreadlocks juga menjelma menjadi simbolisasi sosial Rasta (pengikut ajaran Rastafari).Simbolisasi ini kental terlihat ketika pada tahun 1930-an Jamaika mengalami gejolak sosial dan politik. Kelompok Rasta merasa tidak puas dengan kondisi sosial dan pemerintah yang ada, lantas membentuk masyarakat tersendiri yang tinggal di tenda-tenda yang didirikan diantara semak belukar. Mereka memiliki tatanan nilai dan praktek keagamaan tersendiri, termasuk memelihara rambut gimbal. Dreadlocks juga mereka praktekkan sebagai pembeda dari para “baldhead” (sebutan untuk orang kulit putih berambut pirang), yang mereka golongkan sebagai kaum Babylon—istilah untuk penguasa penindas. Pertengahan tahun 1960-an perkemahan kelompok Rasta ditutup dan mereka dipindahkan ke daerah Kingston, seperti di kota Trench Town dan Greenwich, tempat dimana musik reggae lahir pada tahun 1968.Ketika musik reggae memasuki arus besar musik dunia pada akhir tahun 1970-an, tak pelak lagi sosok Bob Marley dan rambut gimbalnya menjadi ikon baru yang dipuja-puja. Dreadlock dengan segera menjadi sebuah trend baru dalam tata rambut dan cenderung lepas dari nilai spiritualitasnya. Apalagi ketika pada tahun 1990-an, dreadlocks mewarnai penampilan para musisi rock dan menjadi bagian dari fashion dunia. Dreadlock yang biasanya membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk terbentuk, sejak saat itu bisa dibuat oleh salon-salon rambut hanya dalam lima jam! Aneka gaya dreadlock pun ditawarkan, termasuk rambut aneka warna dan “dread perms” alias gaya dreadlock yang permanen.Meski cenderung lebih identik dengan fashion, secara mendasar dreadlock tetap menjadi bentuk ungkap semangat anti kekerasan, anti kemapanan dan solidaritas untuk kalangan minoritas tertindas.

Read more »
1 com

Satanisme atau Kebodohan?


Musik Underground

Benarkah mereka menggotong aliran musik pemuja setan? Kehidupan sehari-hari mereka ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Namun, ada hal-hal yang kontradiktif.
Musik underground tak pelak telah memberikan nuansa tersendiri dalam dunia musik Indonesia sepanjang tahun 1997. Kendatipun, sesuai dengan sebutannya, aliran ini bergerak 'di bawah tanah' dan cenderung beredar 'hanya untuk kalangan sendiri', pengaruhnya diperkirakan akan kian meluas, khususnya di kalangan kaum muda.
Meluasnya pengaruh ini sebagian didukung oleh kian gencarnya pentas musik underground. Salah satu pemrakarsanya, Dewo, seorang entertainer dan MC kondang, mengungkapkan, "Saya melihat, anak-anak underground ini akan dianaktirikan oleh beberapa kalangan, sehingga belum pernah digelar secara terbuka. Lalu, saya punya ide, bagaimana kalau dibuat pagelaran, melihat musik ini juga bisa berkembang seperti grup-grup mayor label."
Pentas underground telah digelar di sejumlah kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Purwokerto, Malang, Surabaya dan Denpasar.
Awal tahun 1998, 13 grup musik underground bergabung meluncurkan album rekaman (Kedaulatan Rakyat, 11/1). Album ini akan diedarkan kepada masyarakat luas.
Satanisme?
Sejauh ini, pemunculan aliran musik ini cukup mengundang kontroversi dan perdebatan. Tabloid Adil sempat menurunkan laporan utama mengenai aliran ini, bertitel "Bangkitnya Kelompok Pemuja Setan" (16/4/1997). Beberapa orang tua mengaku cemas mengamati anak mereka suka menyebut-nyebut Lucifer dan memasang atribut-atribut underground di kamarnya.
Personil dan fans aliran musik ini dapat dikenal melalui kostum kebesaran hitam-hitam (belakangan bermunculan pula corak warna lain) dengan hiasan nama dan lambang-lambang grup metal. Khusus para penggemar black metal, mereka suka mengenakan masker bermotifkan wajah setan.
Sangkakala berkesempatan melihat aksi mereka dari dekat ketika menyaksikan pentas "Benteng Bawah Tanah" di Yogyakarta, Minggu (7/12). Mereka berpolah mulai dari memutar-mutar kepala (head bang), melompat dari panggung ke tengah kerumunan penonton, saling membenturkan badan, menjerit histeris, membakar dupa dan menaburkan bunga hingga menggotong tengkorak binatang. Seorang penonton bahkan sempat meloncat ke atas panggung untuk mempertunjukkan aksi menggigit ular.
Selain itu, juga disajikan kostum-kostum khas yang antara lain menampilkan gambar Yesus disalib dengan isi perut terburai keluar, setan kembar dipaku pada kayu salib, jubah kepala kambing dan pentagram, hingga gambar gadis telanjang dada dengan tubuh berdarah bekas tikaman pisau atau gigitan. Sejumlah penonton menggoreskan gambar salib terbalik di dahinya.
Benarkah mereka pemuja setan? Sulit memang untuk melacaknya. Penggemar aliran ini jelas-jelas menolak anggapan tersebut.
Ketika menjumpai mereka di luar panggung, Sangkakala melihat kehidupan mereka tidak seseram yang dibayangkan. Solidaritas dan jaringan komunikasi di antara sesama undergrounder (sebutan bagi penggandrung aliran ini) justru terlihat kuat. Tak jarang mereka melakukan koordinasi antarkota, gotong-royong dan urunan untuk membayar pentas, mengingat masih langka pihak sponsor yang bersedia menyuntikkan dana.
Aliran ini muncul lebih sebagai protes terhadap aliran mainstream atau grup-grup mayor label. Mereka menganggap grup-grup itu menarik keuntungan komersial dengan bermain musik secara gampangan.
Grup-grup underground di Barat memang ada yang terang-terangan mengaku sebagai pemuja setan. "Tapi kalau di Indonesia, terlahir karena ingin berekspresi," kata Eko dari Mortal Scream.
Mereka juga menyadari keberadaannya di tengah budaya Timur, "Jadi kita cenderung mengambil aksi panggungnya saja, sekadar sensasi," tutur Eko lebih lanjut.
Penontonlah, konon, yang justru tidak tahu diri. "Penonton yang cuma ikut-ikutan, yang disebut abal-abal itu, yang sering keterlaluan. Nggak 'ngerti apa-apa sudah 'ngaku satanis," jelas Eko.
Dewo ikut menambahkan, undergrounders yang dikenalnya "kebanyakan orang-orangnya humanis sekali dan peka terhadap sekelilingnya".
Kepekaan inilah yang selanjutnya dituangkan melalui lirik-lirik lagu mereka, yang rata-rata bercerita tentang kebencian, pemberontakan, kematian dan bahkan kekuasaan setan di dunia.
"Musisi brutal death metal biasanya menggotong tema-tema kematian," kata Pandu, vokalis Ruction.
"Ruction sendiri banyak mengambil tema-tema sosial seperti kemunafikan serta kesadisan manusia. Misalnya, tentang pembunuhan: kita menculik orang, lalu menyiksanya untuk kepuasan diri sendiri." Pandu mengaku mengambil kisah nyata dari koran, seperti kasus ibu yang membunuh dan memotong-motong anaknya, dan dari buku-buku perang.
Gendon, vokalis dan penulis lirik Mortal Scream, mengungkapkan hal senada. "Biasanya kita mengambil masalah kemanusiaan. Maksudnya, sisi buruk manusia itu sendiri, seperti 'nggak punya moral, pemerkosa, penghujat," ujarnya.
Kekuatan Musik
Bila dicermati, ada hal-hal yang kontradiktif dalam pernyataan para undergrounders tadi.
Pernyataan tentang aksi panggung tadi, misalnya. Mungkinkah kita hanya mengambil aksi panggung suatu grup musik dengan mengesampingkan nilai-nilai yang ditawarkannya?
Musikolog Inggris, David Tame, dalam buku The Secret Power of Music menulis, "Moralitas sang musisi sangat menentukan… musik pasti selalu memiliki efek moral. Entah secara terang-terangan atau secara tidak kentara dikomunikasikan dari alam bawah sadar, melalui penampilannya seorang musisi selalu mengekspresikan keharmonisan atau ketidakkeharmonisan psikologis yang terjadi di dalam batin mereka."
Di bagian lain David Tame menulis, "Adapun yang paling menentukan sifat karya musik apa pun adalah keadaan mental dan emosional komposer atau musisinya. Esensi keadaan mental dan emosional itulah yang masuk ke dalam diri kita dengan kemampuan untuk membentuk dan mengubah kesadaran kita menjadi serupa dengan keadaan musisi tersebut." Melalui musik, nilai-nilai yang dianut sang musisi pun terserap ke dalam diri penyimaknya.
Jimmi Hendrix, idola musik rock akhir tahun 1960-an, menuturkan, "Musik pada hakikatnya bersifat rohani. Anda dapat menghipnotis dengan musik, dan sewaktu orang mencapai titik kesadaran terlemah, Anda dapat mengkhotbahkan apa saja yang Anda inginkan ke dalam alam bawah sadar mereka."
Bisa "Bersih"
Gambaran mereka tentang satanisme juga telihat baru menyentuh bagian permukaan.
Satanisme memang tidak selalu "seseram" yang kita bayangkan. Dengan kata lain, ritusnya tidak selalu melibatkan korban berdarah, baik dari binatang maupun manusia. Tidak pula selalu melibatkan penganiayaan seksual. Tidak. Satanisme bisa tampil "bersih".
Anton Szandor LaVey, pendiri gereja setan yang baru saja meninggal, mengungkapkan hakikat satanisme sebagai kesadaran bahwa kita adalah ilah bagi diri kita sendiri. Kita memiliki wewenang mutlak untuk menentukan dan melakukan apa yang kita sukai. Seperti dikatakan dalam Kitab Satan 4:3, "Katakanlah pada hatimu sendiri, 'Aku adalah penebus diriku sendiri'".
Dengan demikian, dalam satanisme sebenarnya orang tidak menyembah Satan (Iblis), melainkan menyembah dirinya sendiri! Meminjam kata-kata Billy Idol (musisi rock tahun 198-an), satanisme adalah "menari dengan diri sendiri."
Dari satanisme inilah bersumber gelombang individualisme, relativisme, humanisme, materialisme, hingga fatalisme.
Kontras dengan perintah utama Yesus Kristus, agar kita mengasihi Allah dan sesama, satanisme mendengungkan: "Lakukan urusanmu sendiri"' "Kebenaran itu subjektif; tidak ada standar moral yang mutlak", "Kalau kau suka, lakukan saja; terserah kamu." Beribadah pun, bila itu dilakukan menurut "kebenaran sendiri", justru merupakan saatanisme terselubung.
Yang "bersih" ini, dengan demikian, justru jauh lebih berbahaya. Kenapa? Karena jauh lebih menyesatkan, sengatnya jauh lebih mematikan. Firman Tuhan memperingatkan, agar kita waspada terhadap Iblis yang "menyamar sebagai malaikat Terang" (2 Korintus 11:4).
Meretas Mediokritas
Dalam Alkitab dikatakan, "Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka" (Amsal 22:3).
Sehubungan dengan fenomena musik underground ini, yang kemudian menjadi tanda tanya adalah, kenapa genre musik yang menyajikan citra-citra menyeramkan (grim imajery) lirik-lirik yang menggotong tema-tema "gelap", dan jelas-jelas berlabel satanisme itu disukai dan diikuti anak-anak muda?
Bagaimana dengan dalih, bahwa hal itu bisa ditangkal dengan keyakinan iman dan norma-norma ketimuran yang kita pegang? Adi Prasetyo, misalnya, menulis di Bernas (4/5/1997), "Menengok liriknya, mungkin lebih bijaksana jika kita bisa memandangnya hanya semata-mata sebagai lirik pelengkap lagu, bukan suatu keyakinan atau ajakan. Dengan menguatkan iman, mengembangkan kedewasaan dan keluasan berpikir, tentu bisa mengimbangi pengaruh kekuatan lirik tersebut."
Kalau kita menyadari dahsyatnya kekuatan musik, dapat diajukan pertanyaaan balik: Dalih tersebut menandakan keteguhan iman, kedewasaan dan keluasan cara berpikir atau suatu sikap masa bodoh? Firman Tuhan memperingatkan, "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). John White, seorang psikolog Kristen, menulis, "Kalau kita merasa sanggup mengendalikan kejahatan, kita tidak akan pernah berusaha keras untuk menjauhinya."
George Orwell suatu ketika menggambarkan bagaimana seorang seniman menghadapi kejenuhan dalam kreativitas. Untuk meretas kungkungan mediokritas, ia menyisipkan hal-hal yang dianggap bobrok oleh tatanan budaya dan moral, guna meningkatkan nilai karyanya.
"Selalu sebuah ada jalan keluar: berpalinglah kepada kejahatan. Lakukanlah hal-hal yang akan mengguncangkan dan melukai orang banyak ... melemparkan seorang anak kecil dari jembatan, mencambuk seorang dokter tua - atau, paling tidak, bayangkanlah hal-hal semacam itu," tuturnya. "Di situlah engkau akan menjumpai jati dirimu."
Tampaknya fenomena inilah yang melatarbelakangi perkembangan dan penerimaan musik underground. Heru Emka dalam bukunya, Thrash Metal dan Grindcore sebagai Musik Alternatif, secara tidak langsung memaparkan adanya dua pemicu.
Secara internal, aliran ini merupakan gerakan perlawanan terhadap kemapanan budaya rock yang tumpul. Secara eksternal, mereka memberontaki proses dehumanisasi yang kian meruyak, antara lain dengan makin mencoloknya alienasi.
Alienasi ini, menurut Melvin Seeman, ditandai dengan kondisi rasa tanpa daya (powerlesness), ketiadaan makna hidup (meaningless), kehampaan norma hidup (normless), rasa terkucil (isolation), dan rasa keterpencilan diri (self-estrangement).
Lebih lanjut Heru Emka mengungkapkan, "Bentuk-bentuk pengucapan seni modern seperti grindcore [salah satu jenis musik underground - Red.] memang dimaksudkan sebagai pengejut (shocker) bagi dinamika budaya yang mati suri."
Adapun George Orwell menyatakan, "Seni mencapai puncak kebobrokannya ketika keberadaannya dimaksudkan untuk mengguncangkan (to shock)."
Lebih Keras
Fenomena ini dapat dijumpai pada perkenalan anak-anak muda itu dengan musik underground.
"Saya senang thrash metal pas kelas 3 (SMU - Red.)," tutur Gendon. "Saya senang 'ndengerin musik dari grup-grup seperti Creator, Sepultura, Metallica, dan kemudian saya mencari yang lebih keras, misalnya Suffocation. Untuk bisa nangkep lirik-liriknya, kita mesti masuk ke situ. Kita baca teksnya, ternyata bisa! Lama-lama suka, terus kita hayati."
Pandu mengungkapkan pengalaman serupa. Berawal dari menyukai Sepultura, Creator dan Napalm Death, "Saya memilih jalur ini karena bersemangat, berbobot, dan penuh skill. Kalau saya simpulkan sendiri, brutal death metal itu seperti main jazz tapi 'ngebut! Fans kami suka musik yang kencang, aksi panggung dan kaos hitam. Soal lirik nggak selalu mereka dengar, soalnya kita seperti orang mengerang di panggung."
Adakah kegandrungan kaum muda kita kepada musik underground merupakan sinyal, bahwa budaya kita tengah bergulir ke tahap yang dimaksudkan Orwell? Apa yang terjadi sekarang ini seperti sebuah benih. Haruskah kita menunggu satu dua dasa warsa (atau bahkan lebih cepat) lagi untuk menuai buahnya, dan kemudian baru menyadari kesalahan yang telah kita buat hari ini?
Kita bisa terus "menari dengan diri sendiri", terus "… mati karena pelanggaran dan dosa-dosamu… hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu menaati penguasa kerajaan angkasa (Satan)… hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran… yang jahat" (Efesus 2:1-3). Atau, kita bisa mengarahkan telinga kita kepada musik surga dan membiarkan Tuhan mengajarkan kepada kita sebuah tarian baru, sebuah cara baru untuk menjalani kehidupan ini. *** (Berdasarkan laporan wartawan Sangkakala di sejumlah kota) Musik Underground
Satanisme atau Kebodohan?
Benarkah mereka menggotong aliran musik pemuja setan? Kehidupan sehari-hari mereka ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Namun, ada hal-hal yang kontradiktif.
Musik underground tak pelak telah memberikan nuansa tersendiri dalam dunia musik Indonesia sepanjang tahun 1997. Kendatipun, sesuai dengan sebutannya, aliran ini bergerak 'di bawah tanah' dan cenderung beredar 'hanya untuk kalangan sendiri', pengaruhnya diperkirakan akan kian meluas, khususnya di kalangan kaum muda.
Meluasnya pengaruh ini sebagian didukung oleh kian gencarnya pentas musik underground. Salah satu pemrakarsanya, Dewo, seorang entertainer dan MC kondang, mengungkapkan, "Saya melihat, anak-anak underground ini akan dianaktirikan oleh beberapa kalangan, sehingga belum pernah digelar secara terbuka. Lalu, saya punya ide, bagaimana kalau dibuat pagelaran, melihat musik ini juga bisa berkembang seperti grup-grup mayor label."
Pentas underground telah digelar di sejumlah kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Purwokerto, Malang, Surabaya dan Denpasar.
Awal tahun 1998, 13 grup musik underground bergabung meluncurkan album rekaman (Kedaulatan Rakyat, 11/1). Album ini akan diedarkan kepada masyarakat luas.
Satanisme?
Sejauh ini, pemunculan aliran musik ini cukup mengundang kontroversi dan perdebatan. Tabloid Adil sempat menurunkan laporan utama mengenai aliran ini, bertitel "Bangkitnya Kelompok Pemuja Setan" (16/4/1997). Beberapa orang tua mengaku cemas mengamati anak mereka suka menyebut-nyebut Lucifer dan memasang atribut-atribut underground di kamarnya.
Personil dan fans aliran musik ini dapat dikenal melalui kostum kebesaran hitam-hitam (belakangan bermunculan pula corak warna lain) dengan hiasan nama dan lambang-lambang grup metal. Khusus para penggemar black metal, mereka suka mengenakan masker bermotifkan wajah setan.
Sangkakala berkesempatan melihat aksi mereka dari dekat ketika menyaksikan pentas "Benteng Bawah Tanah" di Yogyakarta, Minggu (7/12). Mereka berpolah mulai dari memutar-mutar kepala (head bang), melompat dari panggung ke tengah kerumunan penonton, saling membenturkan badan, menjerit histeris, membakar dupa dan menaburkan bunga hingga menggotong tengkorak binatang. Seorang penonton bahkan sempat meloncat ke atas panggung untuk mempertunjukkan aksi menggigit ular.
Selain itu, juga disajikan kostum-kostum khas yang antara lain menampilkan gambar Yesus disalib dengan isi perut terburai keluar, setan kembar dipaku pada kayu salib, jubah kepala kambing dan pentagram, hingga gambar gadis telanjang dada dengan tubuh berdarah bekas tikaman pisau atau gigitan. Sejumlah penonton menggoreskan gambar salib terbalik di dahinya.
Benarkah mereka pemuja setan? Sulit memang untuk melacaknya. Penggemar aliran ini jelas-jelas menolak anggapan tersebut.
Ketika menjumpai mereka di luar panggung, Sangkakala melihat kehidupan mereka tidak seseram yang dibayangkan. Solidaritas dan jaringan komunikasi di antara sesama undergrounder (sebutan bagi penggandrung aliran ini) justru terlihat kuat. Tak jarang mereka melakukan koordinasi antarkota, gotong-royong dan urunan untuk membayar pentas, mengingat masih langka pihak sponsor yang bersedia menyuntikkan dana.
Aliran ini muncul lebih sebagai protes terhadap aliran mainstream atau grup-grup mayor label. Mereka menganggap grup-grup itu menarik keuntungan komersial dengan bermain musik secara gampangan.
Grup-grup underground di Barat memang ada yang terang-terangan mengaku sebagai pemuja setan. "Tapi kalau di Indonesia, terlahir karena ingin berekspresi," kata Eko dari Mortal Scream.
Mereka juga menyadari keberadaannya di tengah budaya Timur, "Jadi kita cenderung mengambil aksi panggungnya saja, sekadar sensasi," tutur Eko lebih lanjut.
Penontonlah, konon, yang justru tidak tahu diri. "Penonton yang cuma ikut-ikutan, yang disebut abal-abal itu, yang sering keterlaluan. Nggak 'ngerti apa-apa sudah 'ngaku satanis," jelas Eko.
Dewo ikut menambahkan, undergrounders yang dikenalnya "kebanyakan orang-orangnya humanis sekali dan peka terhadap sekelilingnya".
Kepekaan inilah yang selanjutnya dituangkan melalui lirik-lirik lagu mereka, yang rata-rata bercerita tentang kebencian, pemberontakan, kematian dan bahkan kekuasaan setan di dunia.
"Musisi brutal death metal biasanya menggotong tema-tema kematian," kata Pandu, vokalis Ruction.
"Ruction sendiri banyak mengambil tema-tema sosial seperti kemunafikan serta kesadisan manusia. Misalnya, tentang pembunuhan: kita menculik orang, lalu menyiksanya untuk kepuasan diri sendiri." Pandu mengaku mengambil kisah nyata dari koran, seperti kasus ibu yang membunuh dan memotong-motong anaknya, dan dari buku-buku perang.
Gendon, vokalis dan penulis lirik Mortal Scream, mengungkapkan hal senada. "Biasanya kita mengambil masalah kemanusiaan. Maksudnya, sisi buruk manusia itu sendiri, seperti 'nggak punya moral, pemerkosa, penghujat," ujarnya.
Kekuatan Musik
Bila dicermati, ada hal-hal yang kontradiktif dalam pernyataan para undergrounders tadi.
Pernyataan tentang aksi panggung tadi, misalnya. Mungkinkah kita hanya mengambil aksi panggung suatu grup musik dengan mengesampingkan nilai-nilai yang ditawarkannya?
Musikolog Inggris, David Tame, dalam buku The Secret Power of Music menulis, "Moralitas sang musisi sangat menentukan… musik pasti selalu memiliki efek moral. Entah secara terang-terangan atau secara tidak kentara dikomunikasikan dari alam bawah sadar, melalui penampilannya seorang musisi selalu mengekspresikan keharmonisan atau ketidakkeharmonisan psikologis yang terjadi di dalam batin mereka."
Di bagian lain David Tame menulis, "Adapun yang paling menentukan sifat karya musik apa pun adalah keadaan mental dan emosional komposer atau musisinya. Esensi keadaan mental dan emosional itulah yang masuk ke dalam diri kita dengan kemampuan untuk membentuk dan mengubah kesadaran kita menjadi serupa dengan keadaan musisi tersebut." Melalui musik, nilai-nilai yang dianut sang musisi pun terserap ke dalam diri penyimaknya.
Jimmi Hendrix, idola musik rock akhir tahun 1960-an, menuturkan, "Musik pada hakikatnya bersifat rohani. Anda dapat menghipnotis dengan musik, dan sewaktu orang mencapai titik kesadaran terlemah, Anda dapat mengkhotbahkan apa saja yang Anda inginkan ke dalam alam bawah sadar mereka."Bisa "Bersih"
Gambaran mereka tentang satanisme juga telihat baru menyentuh bagian permukaan.
Satanisme memang tidak selalu "seseram" yang kita bayangkan. Dengan kata lain, ritusnya tidak selalu melibatkan korban berdarah, baik dari binatang maupun manusia. Tidak pula selalu melibatkan penganiayaan seksual. Tidak. Satanisme bisa tampil "bersih".
Anton Szandor LaVey, pendiri gereja setan yang baru saja meninggal, mengungkapkan hakikat satanisme sebagai kesadaran bahwa kita adalah ilah bagi diri kita sendiri. Kita memiliki wewenang mutlak untuk menentukan dan melakukan apa yang kita sukai. Seperti dikatakan dalam Kitab Satan 4:3, "Katakanlah pada hatimu sendiri, 'Aku adalah penebus diriku sendiri'".
Dengan demikian, dalam satanisme sebenarnya orang tidak menyembah Satan (Iblis), melainkan menyembah dirinya sendiri! Meminjam kata-kata Billy Idol (musisi rock tahun 198-an), satanisme adalah "menari dengan diri sendiri."
Dari satanisme inilah bersumber gelombang individualisme, relativisme, humanisme, materialisme, hingga fatalisme.
Kontras dengan perintah utama Yesus Kristus, agar kita mengasihi Allah dan sesama, satanisme mendengungkan: "Lakukan urusanmu sendiri"' "Kebenaran itu subjektif; tidak ada standar moral yang mutlak", "Kalau kau suka, lakukan saja; terserah kamu." Beribadah pun, bila itu dilakukan menurut "kebenaran sendiri", justru merupakan saatanisme terselubung.
Yang "bersih" ini, dengan demikian, justru jauh lebih berbahaya. Kenapa? Karena jauh lebih menyesatkan, sengatnya jauh lebih mematikan. Firman Tuhan memperingatkan, agar kita waspada terhadap Iblis yang "menyamar sebagai malaikat Terang" (2 Korintus 11:4).
Meretas Mediokritas
Dalam Alkitab dikatakan, "Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka" (Amsal 22:3).
Sehubungan dengan fenomena musik underground ini, yang kemudian menjadi tanda tanya adalah, kenapa genre musik yang menyajikan citra-citra menyeramkan (grim imajery) lirik-lirik yang menggotong tema-tema "gelap", dan jelas-jelas berlabel satanisme itu disukai dan diikuti anak-anak muda?
Bagaimana dengan dalih, bahwa hal itu bisa ditangkal dengan keyakinan iman dan norma-norma ketimuran yang kita pegang? Adi Prasetyo, misalnya, menulis di Bernas (4/5/1997), "Menengok liriknya, mungkin lebih bijaksana jika kita bisa memandangnya hanya semata-mata sebagai lirik pelengkap lagu, bukan suatu keyakinan atau ajakan. Dengan menguatkan iman, mengembangkan kedewasaan dan keluasan berpikir, tentu bisa mengimbangi pengaruh kekuatan lirik tersebut."
Kalau kita menyadari dahsyatnya kekuatan musik, dapat diajukan pertanyaaan balik: Dalih tersebut menandakan keteguhan iman, kedewasaan dan keluasan cara berpikir atau suatu sikap masa bodoh? Firman Tuhan memperingatkan, "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). John White, seorang psikolog Kristen, menulis, "Kalau kita merasa sanggup mengendalikan kejahatan, kita tidak akan pernah berusaha keras untuk menjauhinya."
George Orwell suatu ketika menggambarkan bagaimana seorang seniman menghadapi kejenuhan dalam kreativitas. Untuk meretas kungkungan mediokritas, ia menyisipkan hal-hal yang dianggap bobrok oleh tatanan budaya dan moral, guna meningkatkan nilai karyanya.
"Selalu sebuah ada jalan keluar: berpalinglah kepada kejahatan. Lakukanlah hal-hal yang akan mengguncangkan dan melukai orang banyak ... melemparkan seorang anak kecil dari jembatan, mencambuk seorang dokter tua - atau, paling tidak, bayangkanlah hal-hal semacam itu," tuturnya. "Di situlah engkau akan menjumpai jati dirimu."
Tampaknya fenomena inilah yang melatarbelakangi perkembangan dan penerimaan musik underground. Heru Emka dalam bukunya, Thrash Metal dan Grindcore sebagai Musik Alternatif, secara tidak langsung memaparkan adanya dua pemicu.
Secara internal, aliran ini merupakan gerakan perlawanan terhadap kemapanan budaya rock yang tumpul. Secara eksternal, mereka memberontaki proses dehumanisasi yang kian meruyak, antara lain dengan makin mencoloknya alienasi.
Alienasi ini, menurut Melvin Seeman, ditandai dengan kondisi rasa tanpa daya (powerlesness), ketiadaan makna hidup (meaningless), kehampaan norma hidup (normless), rasa terkucil (isolation), dan rasa keterpencilan diri (self-estrangement).
Lebih lanjut Heru Emka mengungkapkan, "Bentuk-bentuk pengucapan seni modern seperti grindcore [salah satu jenis musik underground - Red.] memang dimaksudkan sebagai pengejut (shocker) bagi dinamika budaya yang mati suri."
Adapun George Orwell menyatakan, "Seni mencapai puncak kebobrokannya ketika keberadaannya dimaksudkan untuk mengguncangkan (to shock)."
Lebih Keras
Fenomena ini dapat dijumpai pada perkenalan anak-anak muda itu dengan musik underground.
"Saya senang thrash metal pas kelas 3 (SMU - Red.)," tutur Gendon. "Saya senang 'ndengerin musik dari grup-grup seperti Creator, Sepultura, Metallica, dan kemudian saya mencari yang lebih keras, misalnya Suffocation. Untuk bisa nangkep lirik-liriknya, kita mesti masuk ke situ. Kita baca teksnya, ternyata bisa! Lama-lama suka, terus kita hayati."
Pandu mengungkapkan pengalaman serupa. Berawal dari menyukai Sepultura, Creator dan Napalm Death, "Saya memilih jalur ini karena bersemangat, berbobot, dan penuh skill. Kalau saya simpulkan sendiri, brutal death metal itu seperti main jazz tapi 'ngebut! Fans kami suka musik yang kencang, aksi panggung dan kaos hitam. Soal lirik nggak selalu mereka dengar, soalnya kita seperti orang mengerang di panggung."
Adakah kegandrungan kaum muda kita kepada musik underground merupakan sinyal, bahwa budaya kita tengah bergulir ke tahap yang dimaksudkan Orwell? Apa yang terjadi sekarang ini seperti sebuah benih. Haruskah kita menunggu satu dua dasa warsa (atau bahkan lebih cepat) lagi untuk menuai buahnya, dan kemudian baru menyadari kesalahan yang telah kita buat hari ini?
Kita bisa terus "menari dengan diri sendiri", terus "… mati karena pelanggaran dan dosa-dosamu… hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu menaati penguasa kerajaan angkasa (Satan)… hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran… yang jahat" (Efesus 2:1-3). Atau, kita bisa mengarahkan telinga kita kepada musik surga dan membiarkan Tuhan mengajarkan kepada kita sebuah tarian baru, sebuah cara baru untuk menjalani kehidupan ini. *** (Berdasarkan laporan wartawan Sangkakala di sejumlah kota) Musik Underground
Satanisme atau Kebodohan?
Benarkah mereka menggotong aliran musik pemuja setan? Kehidupan sehari-hari mereka ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Namun, ada hal-hal yang kontradiktif.
Musik underground tak pelak telah memberikan nuansa tersendiri dalam dunia musik Indonesia sepanjang tahun 1997. Kendatipun, sesuai dengan sebutannya, aliran ini bergerak 'di bawah tanah' dan cenderung beredar 'hanya untuk kalangan sendiri', pengaruhnya diperkirakan akan kian meluas, khususnya di kalangan kaum muda.
Meluasnya pengaruh ini sebagian didukung oleh kian gencarnya pentas musik underground. Salah satu pemrakarsanya, Dewo, seorang entertainer dan MC kondang, mengungkapkan, "Saya melihat, anak-anak underground ini akan dianaktirikan oleh beberapa kalangan, sehingga belum pernah digelar secara terbuka. Lalu, saya punya ide, bagaimana kalau dibuat pagelaran, melihat musik ini juga bisa berkembang seperti grup-grup mayor label."
Pentas underground telah digelar di sejumlah kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Purwokerto, Malang, Surabaya dan Denpasar.
Awal tahun 1998, 13 grup musik underground bergabung meluncurkan album rekaman (Kedaulatan Rakyat, 11/1). Album ini akan diedarkan kepada masyarakat luas.
Satanisme?
Sejauh ini, pemunculan aliran musik ini cukup mengundang kontroversi dan perdebatan. Tabloid Adil sempat menurunkan laporan utama mengenai aliran ini, bertitel "Bangkitnya Kelompok Pemuja Setan" (16/4/1997). Beberapa orang tua mengaku cemas mengamati anak mereka suka menyebut-nyebut Lucifer dan memasang atribut-atribut underground di kamarnya.
Personil dan fans aliran musik ini dapat dikenal melalui kostum kebesaran hitam-hitam (belakangan bermunculan pula corak warna lain) dengan hiasan nama dan lambang-lambang grup metal. Khusus para penggemar black metal, mereka suka mengenakan masker bermotifkan wajah setan.
Sangkakala berkesempatan melihat aksi mereka dari dekat ketika menyaksikan pentas "Benteng Bawah Tanah" di Yogyakarta, Minggu (7/12). Mereka berpolah mulai dari memutar-mutar kepala (head bang), melompat dari panggung ke tengah kerumunan penonton, saling membenturkan badan, menjerit histeris, membakar dupa dan menaburkan bunga hingga menggotong tengkorak binatang. Seorang penonton bahkan sempat meloncat ke atas panggung untuk mempertunjukkan aksi menggigit ular.
Selain itu, juga disajikan kostum-kostum khas yang antara lain menampilkan gambar Yesus disalib dengan isi perut terburai keluar, setan kembar dipaku pada kayu salib, jubah kepala kambing dan pentagram, hingga gambar gadis telanjang dada dengan tubuh berdarah bekas tikaman pisau atau gigitan. Sejumlah penonton menggoreskan gambar salib terbalik di dahinya.
Benarkah mereka pemuja setan? Sulit memang untuk melacaknya. Penggemar aliran ini jelas-jelas menolak anggapan tersebut.
Ketika menjumpai mereka di luar panggung, Sangkakala melihat kehidupan mereka tidak seseram yang dibayangkan. Solidaritas dan jaringan komunikasi di antara sesama undergrounder (sebutan bagi penggandrung aliran ini) justru terlihat kuat. Tak jarang mereka melakukan koordinasi antarkota, gotong-royong dan urunan untuk membayar pentas, mengingat masih langka pihak sponsor yang bersedia menyuntikkan dana.
Aliran ini muncul lebih sebagai protes terhadap aliran mainstream atau grup-grup mayor label. Mereka menganggap grup-grup itu menarik keuntungan komersial dengan bermain musik secara gampangan.
Grup-grup underground di Barat memang ada yang terang-terangan mengaku sebagai pemuja setan. "Tapi kalau di Indonesia, terlahir karena ingin berekspresi," kata Eko dari Mortal Scream.
Mereka juga menyadari keberadaannya di tengah budaya Timur, "Jadi kita cenderung mengambil aksi panggungnya saja, sekadar sensasi," tutur Eko lebih lanjut.
Penontonlah, konon, yang justru tidak tahu diri. "Penonton yang cuma ikut-ikutan, yang disebut abal-abal itu, yang sering keterlaluan. Nggak 'ngerti apa-apa sudah 'ngaku satanis," jelas Eko.
Dewo ikut menambahkan, undergrounders yang dikenalnya "kebanyakan orang-orangnya humanis sekali dan peka terhadap sekelilingnya".
Kepekaan inilah yang selanjutnya dituangkan melalui lirik-lirik lagu mereka, yang rata-rata bercerita tentang kebencian, pemberontakan, kematian dan bahkan kekuasaan setan di dunia.
"Musisi brutal death metal biasanya menggotong tema-tema kematian," kata Pandu, vokalis Ruction.
"Ruction sendiri banyak mengambil tema-tema sosial seperti kemunafikan serta kesadisan manusia. Misalnya, tentang pembunuhan: kita menculik orang, lalu menyiksanya untuk kepuasan diri sendiri." Pandu mengaku mengambil kisah nyata dari koran, seperti kasus ibu yang membunuh dan memotong-motong anaknya, dan dari buku-buku perang.
Gendon, vokalis dan penulis lirik Mortal Scream, mengungkapkan hal senada. "Biasanya kita mengambil masalah kemanusiaan. Maksudnya, sisi buruk manusia itu sendiri, seperti 'nggak punya moral, pemerkosa, penghujat," ujarnya.
Kekuatan Musik
Bila dicermati, ada hal-hal yang kontradiktif dalam pernyataan para undergrounders tadi.
Pernyataan tentang aksi panggung tadi, misalnya. Mungkinkah kita hanya mengambil aksi panggung suatu grup musik dengan mengesampingkan nilai-nilai yang ditawarkannya?
Musikolog Inggris, David Tame, dalam buku The Secret Power of Music menulis, "Moralitas sang musisi sangat menentukan… musik pasti selalu memiliki efek moral. Entah secara terang-terangan atau secara tidak kentara dikomunikasikan dari alam bawah sadar, melalui penampilannya seorang musisi selalu mengekspresikan keharmonisan atau ketidakkeharmonisan psikologis yang terjadi di dalam batin mereka."
Di bagian lain David Tame menulis, "Adapun yang paling menentukan sifat karya musik apa pun adalah keadaan mental dan emosional komposer atau musisinya. Esensi keadaan mental dan emosional itulah yang masuk ke dalam diri kita dengan kemampuan untuk membentuk dan mengubah kesadaran kita menjadi serupa dengan keadaan musisi tersebut." Melalui musik, nilai-nilai yang dianut sang musisi pun terserap ke dalam diri penyimaknya.
Jimmi Hendrix, idola musik rock akhir tahun 1960-an, menuturkan, "Musik pada hakikatnya bersifat rohani. Anda dapat menghipnotis dengan musik, dan sewaktu orang mencapai titik kesadaran terlemah, Anda dapat mengkhotbahkan apa saja yang Anda inginkan ke dalam alam bawah sadar mereka."
Bisa "Bersih"
Gambaran mereka tentang satanisme juga telihat baru menyentuh bagian permukaan.
Satanisme memang tidak selalu "seseram" yang kita bayangkan. Dengan kata lain, ritusnya tidak selalu melibatkan korban berdarah, baik dari binatang maupun manusia. Tidak pula selalu melibatkan penganiayaan seksual. Tidak. Satanisme bisa tampil "bersih".
Anton Szandor LaVey, pendiri gereja setan yang baru saja meninggal, mengungkapkan hakikat satanisme sebagai kesadaran bahwa kita adalah ilah bagi diri kita sendiri. Kita memiliki wewenang mutlak untuk menentukan dan melakukan apa yang kita sukai. Seperti dikatakan dalam Kitab Satan 4:3, "Katakanlah pada hatimu sendiri, 'Aku adalah penebus diriku sendiri'".
Dengan demikian, dalam satanisme sebenarnya orang tidak menyembah Satan (Iblis), melainkan menyembah dirinya sendiri! Meminjam kata-kata Billy Idol (musisi rock tahun 198-an), satanisme adalah "menari dengan diri sendiri."
Dari satanisme inilah bersumber gelombang individualisme, relativisme, humanisme, materialisme, hingga fatalisme.
Kontras dengan perintah utama Yesus Kristus, agar kita mengasihi Allah dan sesama, satanisme mendengungkan: "Lakukan urusanmu sendiri"' "Kebenaran itu subjektif; tidak ada standar moral yang mutlak", "Kalau kau suka, lakukan saja; terserah kamu." Beribadah pun, bila itu dilakukan menurut "kebenaran sendiri", justru merupakan saatanisme terselubung.
Yang "bersih" ini, dengan demikian, justru jauh lebih berbahaya. Kenapa? Karena jauh lebih menyesatkan, sengatnya jauh lebih mematikan. Firman Tuhan memperingatkan, agar kita waspada terhadap Iblis yang "menyamar sebagai malaikat Terang" (2 Korintus 11:4).
Meretas Mediokritas
Dalam Alkitab dikatakan, "Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka" (Amsal 22:3).
Sehubungan dengan fenomena musik underground ini, yang kemudian menjadi tanda tanya adalah, kenapa genre musik yang menyajikan citra-citra menyeramkan (grim imajery) lirik-lirik yang menggotong tema-tema "gelap", dan jelas-jelas berlabel satanisme itu disukai dan diikuti anak-anak muda?
Bagaimana dengan dalih, bahwa hal itu bisa ditangkal dengan keyakinan iman dan norma-norma ketimuran yang kita pegang? Adi Prasetyo, misalnya, menulis di Bernas (4/5/1997), "Menengok liriknya, mungkin lebih bijaksana jika kita bisa memandangnya hanya semata-mata sebagai lirik pelengkap lagu, bukan suatu keyakinan atau ajakan. Dengan menguatkan iman, mengembangkan kedewasaan dan keluasan berpikir, tentu bisa mengimbangi pengaruh kekuatan lirik tersebut."
Kalau kita menyadari dahsyatnya kekuatan musik, dapat diajukan pertanyaaan balik: Dalih tersebut menandakan keteguhan iman, kedewasaan dan keluasan cara berpikir atau suatu sikap masa bodoh? Firman Tuhan memperingatkan, "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). John White, seorang psikolog Kristen, menulis, "Kalau kita merasa sanggup mengendalikan kejahatan, kita tidak akan pernah berusaha keras untuk menjauhinya."
George Orwell suatu ketika menggambarkan bagaimana seorang seniman menghadapi kejenuhan dalam kreativitas. Untuk meretas kungkungan mediokritas, ia menyisipkan hal-hal yang dianggap bobrok oleh tatanan budaya dan moral, guna meningkatkan nilai karyanya.
"Selalu sebuah ada jalan keluar: berpalinglah kepada kejahatan. Lakukanlah hal-hal yang akan mengguncangkan dan melukai orang banyak ... melemparkan seorang anak kecil dari jembatan, mencambuk seorang dokter tua - atau, paling tidak, bayangkanlah hal-hal semacam itu," tuturnya. "Di situlah engkau akan menjumpai jati dirimu."
Tampaknya fenomena inilah yang melatarbelakangi perkembangan dan penerimaan musik underground. Heru Emka dalam bukunya, Thrash Metal dan Grindcore sebagai Musik Alternatif, secara tidak langsung memaparkan adanya dua pemicu.
Secara internal, aliran ini merupakan gerakan perlawanan terhadap kemapanan budaya rock yang tumpul. Secara eksternal, mereka memberontaki proses dehumanisasi yang kian meruyak, antara lain dengan makin mencoloknya alienasi.
Alienasi ini, menurut Melvin Seeman, ditandai dengan kondisi rasa tanpa daya (powerlesness), ketiadaan makna hidup (meaningless), kehampaan norma hidup (normless), rasa terkucil (isolation), dan rasa keterpencilan diri (self-estrangement).
Lebih lanjut Heru Emka mengungkapkan, "Bentuk-bentuk pengucapan seni modern seperti grindcore [salah satu jenis musik underground - Red.] memang dimaksudkan sebagai pengejut (shocker) bagi dinamika budaya yang mati suri."
Adapun George Orwell menyatakan, "Seni mencapai puncak kebobrokannya ketika keberadaannya dimaksudkan untuk mengguncangkan (to shock)."
Lebih Keras
Fenomena ini dapat dijumpai pada perkenalan anak-anak muda itu dengan musik underground.
"Saya senang thrash metal pas kelas 3 (SMU - Red.)," tutur Gendon. "Saya senang 'ndengerin musik dari grup-grup seperti Creator, Sepultura, Metallica, dan kemudian saya mencari yang lebih keras, misalnya Suffocation. Untuk bisa nangkep lirik-liriknya, kita mesti masuk ke situ. Kita baca teksnya, ternyata bisa! Lama-lama suka, terus kita hayati."
Pandu mengungkapkan pengalaman serupa. Berawal dari menyukai Sepultura, Creator dan Napalm Death, "Saya memilih jalur ini karena bersemangat, berbobot, dan penuh skill. Kalau saya simpulkan sendiri, brutal death metal itu seperti main jazz tapi 'ngebut! Fans kami suka musik yang kencang, aksi panggung dan kaos hitam. Soal lirik nggak selalu mereka dengar, soalnya kita seperti orang mengerang di panggung."
Adakah kegandrungan kaum muda kita kepada musik underground merupakan sinyal, bahwa budaya kita tengah bergulir ke tahap yang dimaksudkan Orwell? Apa yang terjadi sekarang ini seperti sebuah benih. Haruskah kita menunggu satu dua dasa warsa (atau bahkan lebih cepat) lagi untuk menuai buahnya, dan kemudian baru menyadari kesalahan yang telah kita buat hari ini?
Kita bisa terus "menari dengan diri sendiri", terus "… mati karena pelanggaran dan dosa-dosamu… hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu menaati penguasa kerajaan angkasa (Satan)… hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran… yang jahat" (Efesus 2:1-3). Atau, kita bisa mengarahkan telinga kita kepada musik surga dan membiarkan Tuhan mengajarkan kepada kita sebuah tarian baru, sebuah cara baru untuk menjalani kehidupan ini.(Berdasarkan laporan wartawan Sangkakala di sejumlah kota)
Read more »

Geo Clock

Google