Reggae Is my Music
"Reggae Is Our Music"
"…Emancipate yourselves from mental slavery, none but ourselves can free our minds…."
Itulah lirik salah satu lagu Bob Marley berjudul Redemption Songs. Dalam banget maknanya untuk ngebangkitin bangsa Jamaika dari mental budak. Musik Bob Marley benar-benar musik pembebasan kaum tertindas.Ngomongin Bob Marley, siapa sih yang enggak kenal dia? Sang legenda reggae dari Jamaika yang paling berpengaruh dalam perkembangan reggae di dunia, termasuk di Tanah Air. Lantunan lagu yang melodik membuat kita terhanyut, bersatu, dan bersantai ria dalam irama yang disebut reggae.Kata reggae diduga berasal logat Afrika, yaitu ragged, yang artinya gerak atau entakan badan pada orang yang menari dengan iringan musik seperti ska. Irama reggae dipengaruhi R&B, soul, rock, ritmik Afro-Caribbean (calypso, merengue, rhumba), dan musik rakyat Jamaika yang disebut Ment. Musik yang kaya irama Afrika.Irama musik yang dianggap pendahulu reggae adalah ska dan rocksteady. Jenis musik yang sarat dengan pengaruh musik Afro-Amerika. Cara mengocok gitarnya kebalik (up-strokes), memberi tekanan nada pada nada lemah (syncopated) dan ketukan drum multiritmik yang edan punya.
Reggae Indonesia
Reggae berevolusi bersama musik Jamaika lainnya, termasuk ska, rocksteady, dub, dancehall, R&B, dan ragga. Kayak yang dijelasin musisi reggae, Ras Muhammad, pas tim MuDA SMAN 54 Jakarta wawancara. "Reggae itu ada beberapa genre, di antaranya ada roots reggae, dub, dancehall, dan loversragg," ujarnya.Perkembangan musik reggae di Tanah Air sudah makin meluas ke berbagai kalangan, terutama anak-anak muda. Banyak juga dari mereka yang sudah bikin band-band beraliran musik ini dan mengikuti style-style reggae.Beberapa grup band reggae yaitu Steven & Coconouttreez yang populer membawakan Welcome to My Paradise dan Tony Q Rastafara dengan Don’t Worry-nya. Ada lagi Ras Muhammad dengan dancehall reggae, yang bisa kita dengar lewat albumnya, Reggae Ambassador."Musik reggae saya tak seperti kebanyakan reggae di Tanah Air. Saya ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa reggae terus berkembang sejak wafatnya Bob Marley. Anda dapat menyebut musik saya: dancehall reggae atau digital roots," kata Ras Muhammad.Ras pernah tinggal di New York, AS 12 tahun, dan melihat langsung komunitas reggae di Brooklyn, New York. "Saya juga melanglang menyambangi komunitas-komunitas reggae di Afrika, Amerika Latin, Inggris, Belanda, Jepang dan Jerman," katanya.
"Ternyata saya melihat kultur reggae begitu beragam.Reggae menyatukan semua orang, semua agama, dan di reggae kita lebih toleran karena keberagaman dijaga," lanjut pria kelahiran Jakarta, 29 Oktober 1982.
Pandangan orang
Sampai sekarang penggemar reggae sukadiidentikkan sebagai pemakai ganja, pergaulan bebas, dan ada pula yang menganggap Rastaman itu orang edan berambut dreadlock, gimbal.Waduh, semua itu salah banget man, sebenarnya ganja di Afrika digunakan buat "sesaji" ritual. Kalau rambut gimbal, itu memang sudah ciri khas orang Afrika.
"Bukan berarti orang yang suka musik reggae harus make ganja atau digimbal, tetapi semangatnya dalam membangun keterpurukan mental," tutur Mas Tony Q dalam wawancara eksklusif dengan Tim MuDA SMA 54 Jakarta di Warung Apresiasi, kawasan Blok M, Jakarta Selatan.Kata Mas Tony, musik reggae itu ya kehidupan sendiri. Di dalamnya ada misi perjuangan, membela yang tertindas, kebersamaan, juga cinta. "Kita ingin menumbuhkan semangat kepada semua orang yang membutuhkan. Get up stand up for your right. Get up stand up don’t give up the fight," katanya.
Nah, buat lo pada yang belum kenal sama musik ini, coba deh lo dengerin. Lo rasain nikmatnya ini musik, jadi enggak perlu make ganja ato ngegimbal rambut, lo sudah bisa nikmatin musik ini dan dijamin lo bakal ngerasa damai dan nyaman karena alunan musik ini. Satu hal lagi, musik reggae itu bebas kok dinikmatin sama siapa aja. Yoo... Maaan…!!! (Tim SMAN 54 Jakarta)






0 komentar:
Posting Komentar