Translate

underground .

Musik Underground, Musik UrakanMonday, 11 February 2008Jakarta-Surya, Peristiwa memilukan tewasnya penonton dalam konser musik kembali terjadi di tanah air. Kali ini, kabarnahas itu muncul dari Gedung Asia Afrika Cultural Center (AACC) Bandung. Konser grup musik beraliran underground,Beside, memakan sepuluh korban tewas.

Polisi masih menyelidiki kepastian penyebab jatuhnya korban tewas. Namun, sejauh ini, tidak ada pernyataan yangmenyebut tragedi nahas itu berkait dengan musik underground. Kendati pun, aliran musik itu biasa mengusung tema-tema `keras` seperti tentang kematian, siksaan, neraka, kehidupan setelah kematian, kritik, protes, dan kecaman. Terlepas dari apa penyebab tragedi itu, musik underground yang mengalami pasang surut dalam perkembangan musikdi Indonesia, kini kembali jadi sorotan. Bagaimana sebetulnya perjalanan musik yang dinilai radikal ekstrem ini, karenalirik-liriknya yang memang jauh dari kesan indah ini?Menurut Ken-Ken, mantan vokalis sebuah grup band underground, jenis musik ini mulai tumbuh di Indonesia pada awal-awal era 90-an. Namun, di luar negeri, aliran ini mulai muncul pada pertengahan 1960-an. Disebut underground atau `bawah tanah` karena aliran ini memang menyempal dari aliran musik yang sudah umum atau mainstream.Aliran underground ini condong urakan atau keluar dari tata cara bermusik pakem. Kendati begitu, underground juga takberpikir untuk membentuk pakem sendiri. Karenanya, di aliran underground ini, ada berjenis-jenis subgenre atau“anak aliran”. “Dulu, aliran ini identik dengan anak-anak urakan," kata Ken-Ken, di Jakarta, Minggu (10/2) siang. Karena awalnya tumbuh di kalangan anak-anak urakan itu, membuat underground dikenal sebagai aliran ekstrem.Predikat itu semakin sah ketika sejumlah konser underground waktu itu kerap melahirkan kericuhan. Ken-Kenmengatakan, biasanya dalam konser musik underground muncul subgenre yang mempunyai massa pendukung sendiri-sendiri. "Yang dari punk punya pendukung sendiri, yang dari metal juga punya sendiri. Awalnya hanya ejek-ejekan, kemudianribut di dalam. Hal seperti itu kerap terjadi, terutama di kota-kota kecil," lanjut pria kelahiran Surabaya ini.Ken-ken mengaku punya pengalaman langsung ketika grup band-nya tampil di Surabaya dan kemudian rusuh. Pihakpanitia biasanya melakukan langkah preventif untuk mencegah terjadinya keributan. Langkah umum yang biasa diambil,menurut Ken-Ken, adalah memisahkan band-band yang dikenal punya massa fanatik dan seringkali memicu kerusuhanuntuk tidak tampil bersamaan dalam satu event. Namun, meski mengatakan kericuhan memang ada dalam sejarah konser musik underground, vokalis musik Sing Ken-Ken ini menyebut, tidak pernah ada yang separah yang terjadi di Bandung Sabtu (9/2) malam. Apalagi, kata dia, parapeminat underground sekarang ini sudah lebih dewasa, lebih cerdas dalam menyalurkan idealisme musik mereka."Aku nggak pernah mencatat kericuhan yang pernah terjadi. Tapi, yang jelas, nggak pernah separah ini. Prihatin juga, dievent sekelas underground yang penggemarnya terbatas, ternyata korbannya sampai begitu banyak. Aku juga nggaktahu penyebabnya. Ini harus jadi pelajaran, terutama menyangkut masalah perizinan. Harus ada regulasi yangmenentukan terkait pembatasan kuota tempat penyelenggaraan konser," sambung Ken-Ken yang mengaku meski sudahtidak aktif, tapi masih kerap nongol di konser underground. Sementara penyanyi jazz yang juga kerap hadir dalam konser musik underground, Syaharani juga menyebut, dibanding era 90-an, pemusik underground sekarang jauh lebih matang. Rani, panggilannya, mengakutidak sepakat dengan label radikal ekstrem yang diberikan kepada para pemusik underground. Ia mengatakan,sekarang, peminat underground, tingkat pendidikan dan tingkat apresiasi musiknya sudah lain. Surya Onlinehttp://www.surya.co.id/webPowered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source Matters. All rights reservedGenerated: 28 November, 2008, 12:59
--------------------------------------------------------------------------------
Page 2
"Mereka memang punya idealisme sendiri dan mereka ingin membuktikan bahwa idealisme mereka tidak kalah jugadengan pelaku industri musik mainstream atau arus utama. Dan menurut saya, itu kemajuan cara berpikir dan caraberbisnis para muda penggemar underground. Mereka ingin punya asosiasi sendiri. Ada banyak hal positif kok padakomunitas underground ini," kata Rani.Karena itupula, Rani tidak mau menyebut peristiwa nahas di Bandung dipicu oleh aliran musik keras yang diusung olehgrup Beside yang beraliran punk. Ia lebih senang membahas prosedur pengamanan sebuah konser. Menurutnya, sebuah konser, terlepas dari jenis musiknya (apakah itu underground atau yang lain), harus menerapkanpersyaratan yang sama dalam hal pengamanan. Sebab, kata dia, tidak ada bedanya orang-orang dari undergroundmaupun yang dan bukan underground. Mereka sama-sama manusia. "Tidak ada masalah, apa jenis musiknya karena nilai manusia sama kan sama. Namanyamusibah bisa datang tanpa pilih-pilih jenis aliran musik. Penyelenggara harus benar-benar memperhatikan masalah-masalah keamanan. Kalau yang di Bandung ini kan masalah di luar isi jenis seni musiknya," kata Rani yang mengakugandrung dengan musik underground sejak 2001 lalu. Rani mengatakan, keamanan itu bukan hanya masalah orang tidak berantem. Tetapi juga masalah ketersediaan udarakalau konser digelar di ruang tertutup. Termasuk masalah kesiapan mobil ambulans jikalau ada penonton terluka. Juga, masalah penataaan panggung, pemasangan lampu-lampu. Kalau ada lampu yang besar harus diberi jairng,supaya jika jatuh tidak mengenai orang."Itu masalah-masalah yang harus diperhatikan oleh penyelenggara. Jadi artisnya main untuk menghibur orang,penyelenggara itu menyiapkan semua hal untuk menunjang itu. Saya hanya urun rembug agar bagaimana masalahkeamanan konser menjadi masalah pokok yang harus dibangun dan menjadi sama pentingnya dengan keberadaankonser itu sendiri," ujar penyanyi kelahiran Batu.

0 komentar:

Geo Clock

Google