City Tuding Kubu Kaka Mata Duitan

Tujuh jam yang sia-sia. Itulah hasil yang diperoleh delegasi Manchester City saat mengunjungi markas AC Milan, Italia, Senin (19/1) lalu. Upaya City yang dipimpin Chief Executive Klub, Garry Cook, untuk meminang bintang Rossoneri asal Brasil, Kaka, kandas. Superstar yang menjadi Pemain Terbaik Dunia 2007 versi FIFA itu memilih ‘kata hati’ dibanding ‘uang’ yang disodorkan City.Di lain pihak, kegagalan itu berbuntut panjang. Adalah Cook sendiri yang mengklaim sikap dan tindakan kubu Rossoneri dan Kaka—dalam hal ini agen sekaligus ayahnya, Bosco Leite—sebagai “sangat tidak profesional dan mata duitan”. Sejak awal, Cook merasa ada sesuatu yang tidak beres. Meskipun kehadiran delegasi City mendapat sambutan, Cook menilai sikap Milan kurang pantas.“Mereka menyuguhkan secangkir kopi. Jadi, tidak fair jika dikatakan tidak ada sambutan (bagi kami),” tutur Cook, Selasa (20/1) kemarin, seperti yang dikutip The Independent. Namun, buru-buru Cook menambahkan, “Sangat jelas (kelihatan) jika penerimaan (keramahan) yang mereka tunjukkan kurang pantas. Dalam pertemuan itu, kami mendengar teriakan fans Milan. Satu hal yang tentunya sangat mengganggu jalannya negosiasi. Kami pikir, tempat itu tidak layak bagi kami untuk menggelar pertemuan.”Cook dan City bersikukuh bahwa sikap mereka yang ‘menjemput bola’ dengan mendatangi kubu Milan terkait deal Kaka karena pihak klub 'mendapat angin' berupa bukti faksimili yang dikirim Adriano Galliani (Wakil Presiden Milan) per tanggal 15 Desember, yang intinya mematok bandrol Kaka senilai 200 juta euro (180 juta pound) atau sekitar Rp 3,3 triliun.Apa yang terjadi? Cook mengatakan dalam pertemuan tertutup sebelum negosiasi berlangsung, Galliani mengakui jika reaksi fans Milan saat laga lanjutan Liga Serie A Italia menghadapi Fiorentina, Sabtu (17/1) lalu mengubah pandangannya. “Ia (Galliani) mengatakan hidupnya telah berubah. Karenanya, ia harus pindah kantor dan sempat mendapat ancaman selama laga digelar. Oleh sebab itu, ia ingin secepat mungkin menyelesaikan deal tersebut. Tampak jelas, itu (kandasnya deal Kaka) disebabkan tekanan politis dan publik. Kalau Anda berada dalam posisi saya, maka Anda pasti dapat merasakannya,” tegas Cook.Awalnya, delegasi Cook yang membawa pengacara ahli dalam soal hak cipta, datang ke Italia dengan harapan tinggi, dapat menuntaskan deal yang bakal menjadi rekor terbesar sepanjang sejarah persepakbolaan dunia. City tahu benar pentingnya menyodorkan proposal hak cipta kepada Bosco Leite sebelum mereka bertemu Kaka. Namun, Cook merasa pertemuan dengan Kaka tidak bakalan terwujud seiring dengan sikap penolakan yang ditunjukkan Bosco Leite.City pun kaget bukan kepalang melihat besarnya pendapatan Kaka dari hak cipta yang mencapai angka delapan (8) juta euro. Lagipula, Leite hanya mau membicarakan soal personal terms, kontrak personal Kaka jika jadi bergabung ke City of Manchester Stadium. “Mereka (Leite) tidak mau terlibat urusan yang kompleks. Yang mereka inginkan hanyalah penawaran cash (tunai),” tuding Cook.
Karena tak kunjung dapat bertemu dengan Kaka, Cook dan delegasinya berencana pulang ke Manchester dan terbang kembali ke Milan pada Rabu (20/1) ini. Namun, Leite sangat kebelet menyelesaikan deal tersebut dan menuntut masalah personal terms dapat dibereskan dalam waktu 1x24 jam. Ketika Cook dan timnya tiba di bandara Linate, Milan, pada pukul 23.03 waktu setempat, datang kontak telepon dari Alberto Zilani, penerjemah Leite. “Kami menginginkan tawaran tunai sekarang juga,” ujar Zailani.Melihat gelagat yang tak beres tersebut, Cook pun memutuskan membatalkan tawaran tersebut. Hanya dalam hitungan menit, gagalnya deal Kaka diketahui publik Italia dan dunia seiring dengan adanya kabar yang dilansir di jaringan televisi milik Silvio Berlusconi, owner Milan.






0 komentar:
Posting Komentar