Sepuluh Transfer Bintang yang Kandas di Tengah Jalan
Usai sudah hingar bingarnya pemberitaan seputar mega-transfer bintang AC Milan, Kaka, ke Manchester City. Di awal pekan, berdalih mendengarkan kata hati, sang superstar berusia 26 tahun itu memutuskan tetap bertahan di San Siro. Pilihan yang membuat Milanisti bersorak kegirangan. Sebaliknya, memukul The Citizens, utamanya manajer tim, Mark Hughes, dan konon, rekan Kaka di Timnas Brasil, Robinho.Namun, setidaknya City tak perlu berkecil hati dengan kegagalan mendatangkan Kaka. Pasalnya, jauh-jauh hari, nasib naas seperti itu pun terjadi pula pada klub-klub elite Eropa, seperti Real Madrid, Barcelona, Manchester United, Liverpool, dan Chelsea. Berikut sepuluh transfer pemain bintang yang kandas di tengah jalan. Catatan: di dalam kurung adalah klub yang nyaris merekrut sang bintang.1. Steven Gerrard (Chelsea)
Sampai saat ini, Liverpool adalah satu-satunya klub yang diperkuat Steven Gerrard sejak ia menandatangani kontrak profesionalnya di Anfield Stadium, 5 November 1997. Ketika performanya mulai menyedot perhatian publik, Gerrard nyaris menjadi punggawa Chelsea di akhir musim 2003-04. Ketika itu, The Blues menyodorkan tawaran 20 juta pound. Gerrard menolak dan memilih bermain di bawah asuhan manajer baru, Rafael Benitez.
Selang setahun kemudian, seusai menjadi figur sentral di balik keberhasilan The Reds membuat “Keajaiban Istanbul” menjuarai Liga Champions 2004-05 dengan mengalahkan AC Milan lewat adu penalti yang mengantarkannya meraih penghargaan sebagai UEFA Club Footballer of the Year 2004-05, Gerrard kembali dilirik Chelsea yang menyodorkan fee transfer 32 juta pound.
Seiring dengan penolakannya terhadap proposal perpanjangan kontrak yang disodorkan klub, 5 Juli 2005, Gerrard meminta dirinya ditransfer ke Stamford Bridge. Ketika itu, Chief Executive Kub, Rick Parry, mengaku telah kehilangan harapan mempertahankan Gerrard. Cerita berubah drastis 24 jam kemudian. Karena keluarganya mendapat ancaman pembunuhan dan kostum replikanya dibakar fans Liverpool—peristiwanya ditayangkan di televisi—Gerrard berubah pikiran dan akhirnya setuju meneken kontrak baru.
2. Ronaldo (Real Madrid)
Bursa transfer musim panas 2008 lalu mencatat sejumlah deal pemain bintang yang gagal direalisasikan klub peminat. Misalnya, Frank Lampard yang diincar Inter Milan dan Jose Mourinho, atau duo striker legam, Didier Drogba (Chelsea) dan Emmanuel Adebayor (Arsenal) yang dilirik Rossoneri. Namun, spekulasi hijrahnya transfer bintang Manchester United, Cristiano Ronaldo, ke Real Madrid tak pelak pantas dijadikan tajuk utama.
Adalah pernyataan CR7, julukan beken Ronaldo, yang terkesan setengah hati seusai keberhasilan MU meraih gelar Liga Champions 2007-08 yang menyulut ‘peperangan’ antara MU dan Madrid. Setelah sempat menyatakan ketertarikannya dengan warna ‘putih’ (warna kostum Madrid) dibanding “merah” (warna kostum MU), Ronaldo pun disebut-sebut telah “pindah ke lain hati”. Setelah dua bulan isu tersebut menyita perhatian publik, Madrid ‘tumbang’ seiring dengan ketetapan hati Ronaldo untuk bertahan di Old Trafford. Meski demikian, sebagian publik masih yakin jika kelak Ronaldo bakal berkostum Los Merengues.
3. Gareth Barry (Liverpool)
Musim lalu, Aston Villa tampil cemerlang. Meski gagal meraih tiket Liga Champions, skuad asuhan Martin O’Neill diyakini punya kualitas mendobrak dominasi the big four. Salah satu kunci keberhasilan Villa adalah performa sang kapten, Gareth Barry. Aksinya di lapangan tengah bersama Nigel Reo-Coker membuat Fabio Capello kepincut dan menariknya kembali ke Timnas Inggris.
Pengamatan Capello selaras dengan manajer Liverpool, Rafael Benitez. Alhasil, Benitez pun berseteru dengan O’Neill yang keukeuh mempertahankan eksistensi Barry di Villa Park. Setelah proses transfer gagal, Barry sempat dicemooh para fans di awal musim. Namun, kecemerlangan Barry membawa Villa yang untuk sementara menduduki posisi empat besar klasemen membuat fans Villa kembali jatuh hati.
4. Alan Shearer (Manchester United)
Dua kali manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson berupaya memboyong Alan Shearer ke Old Trafford. Dua kali pula Ferguson gagal. Yang pertama, terjadi pada 1992 ketika Shearer masih memperkuat Southampton. Adalah Blackburn Rovers, lewat guyuran dana Jack Walker yang berhasil merekrut Shearer. Ketika itu fee Shearer, 3,3 juta pound tercatat sebagai rekor fee tertinggi.
Dua musim kemudian, Shearer membuktikan dirinya pantas dihargai sebesar jumlah tersebut seiring dengan keberhasilannya mengantarkan Rovers menjadi jawara premiership (1994-95) lewat keunggulan tipis, satu poin dari skuad Ferguson. Bersama Rovers, Shearer mencetak 112 gol dari 138 laga liga. Ferguson pun kian kebelet. Sayang, giliran Newcastle United yang menyalip di tikungan dengan membawa Shearer ke St James Park di bursa transfer musim panas 2006. Fee-nya ketika itu, 15 juta pound juga menjadi rekor baru premiership.
5. Alfredo Di Stefano (Barcelona)
Bagi Real Madrid, Alfredo Di Stefano adalah legenda hidup. Striker kelahiran Buenos Aires, Argentina yang kemudian membela Timnas Spanyol itu didaulat sebagai Pemain Terbaik Eropa pada 1957 dan 1959. Duetnya dengan Ferenc Puskas membawa Los Blancos lima kali menjuarai Liga Champions. Yang menarik, proses perpindahannya ke Santiago Bernabeu menyulut kontroversi dan tetap terkenang sebagai transfer ‘paling ribet’ sepanjang sejarah persepakbolaan Spanyol.
Sejatinya, Barcelona merekrut Di Stefano pada 1953. FIFA pun mensahkan perpindahannya dari River Plate, klub yang memiliki hak milik Di Stefano meskipun ia telah bermain dan menjadi hak milik Millonarios sampai akhir 1954. Namun, Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) tak mengakui transfer tersebut karena menganggap tidak ada kesepakatan antara River Plate dan Millonarios. Pada 13 Mei 1953, Di Stefano tiba di Spanyol untuk meneken kontrak bersama Barcelona. Akan tetapi di sela-sela negosiasi dengan pihak RFEF, Presiden Madrid, Santiago Bernabeu ikut nimbrung dan mencoba membujuk Di Stefano.
Setelah sempat melansir putusan larangan memakai pemain asing, RFEF akhirnya memutuskan Madrid dan Barcelona dapat memakai Di Stefano bergiliran, masing-masing dalam dua musim. Kedua presiden setuju dan meneken putusan itu. Namun, fans dan para direktur Barca marah luar biasa. Alhasil, presiden Marti Carreto lengser. Manajemen Barca yang baru mengambil putusan: membatalkan kontrak semula dan memilih menerima kompensasi 4 juta pesetas. Pada 23 Oktober 1953, Di Stefano resmi menjadi punggawa Madrid.
6. Paul Gascoigne (Manchester United)
Kegagalan lainnya yang dialami Manchester United. Setelah meraih penghargaan sebagai Pemain Muda Terbaik 1988 saat memperkuat Newcastle United, Paul Gascoigne menjadi rebutan dua klub, Tottenham Hotspur dan MU. Sir Alex Ferguson berbicara dengan Gascoigne dan mendapat jaminan jika sang bintang bakal terbang ke Old Trafford. Namun, sepulangnya dari liburan musim panas, Ferguson justru disambut dengan kabar The Magpies telah menerima tawaran yang disodorkan Spurs. Dalam benak Ferguson, kepindahan Gascoigne ke White Hart Lane disebabkan kubu Spurs telah “menyogoknya” dengan sebuah rumah. Belakangan, Ferguson mengklaim andaikata Gazza bergabung ke MU, boleh jadi kehidupannya tidak seburuk seperti sekarang.
7. Sir Tom Finney (Palermo)
Sir Tom Finney memulai karirnya sebagai pesepakbola bersama Preston North End di musim 1946. Sebulan setelah melakukan debutnya bersama Preston, Finney mendapat panggilan membela Timnas Inggris. Pada 1952, Finney yang hanya mendapat gaji sebesar 14 pound per pekan, dan Preston mendapat tawaran luar biasa dari klub Italia, Palermo. Yaitu dana sebesar 30 ribu pound, 10 ribu di antaranya sebagai fee transfer. Preston menolak dan tak memberikan izin kepada Finney untuk bernegosiasi dengan Palermo.
8. Diego Maradona (Sheffield United)
Pada 1978, manajer Sheffield United, Harry Haslam sedang menjalani turnya ke Amerika Latin. Ketika itu ia terpesona dengan bakat dan talenta yang dimiliki pemain Argentinos Juniors, Diego Armando Maradona. Karenanya, Haslam segera melakukan langkah pendekatan untuk berusaha memboyong Maradona ke Bramall Lane.
Haslam meminta The Blades menyediakan dana tunai sebesar 200 ribu pound sebagai fee transfer Maradona. Setelah ditunggu-tunggu, Sheffield gagal menyediakan dana sebesar itu. Alhasil, deal Maradona pun kandas di tengah jalan. Meski demikian, Sheffield akhirnya berhasil memboyong gelandang River Plate, Alex Sabella dengan fee 160 ribu pound, rekor transfer klub saat itu. Andai The Blades mampu menyediakan dana tambahan sebesar 40 ribu pound, cerita Maradona mungkin jadi lain.
9. Samuel Eto’o (Tottenham Hotspur)
Pada musim panas 2007 lalu, Samuel Eto’o gencar dispekulasikan bakal segera meninggalkan Nou Camp, markasnya Barcelona. Penyebabnya, kian buruknya hubungan Eto’o dengan pelatih Frank Rijkaard. Setelah sempat dibekap cedera, Eto’o menolak instruksi Rijkaard untuk tampil sebagai pemain pengganti ketika Barca bertanding melawan Racing Santander, 11 Februari 2007.
Kedatangan (mantan) penyerang Arsenal, Thierry Henry, Juni 2007, kian menguatkan spekulasi hengkangnya Eto’o. Barcelona pun siap melego. Di lain pihak, Tottenham Hotspur—yang ditinggalkan Jermain Defoe di bursa Januari 2007—siap membeli dan berada dalam pole position. Akan tetapi, Eto’o punya pikiran lain tentang Spurs. Tanpa bermaksud melecehkan prestise klub, Eto’o menyatakan Spurs bukanlah klub besar yang ingin ia perkuat.
10. Ronaldinho (Manchester United)
Lagi, pukulan telak bagi Sir Alex Ferguson. Pada 2003, sinar Ronaldinho sedang cemerlang. Di lain pihak, MU baru saja ‘membuang’ bintangnya, David Beckham, ke Real Madrid. Ferguson yakin imej dan nama besar The Red Devils dapat membuat Dinho terlena. Namun, terlepas dari alasan faktor sepakbola atau duit, Ronaldinho menolak bergabung ke Manchester dan memilih terbang ke Spanyol memperkuat Barcelona. Putusan yang tepat seiring dengan keberhasilan Dinho mengantarkan Barcelona dua kali menjadi jawara La Liga dan tampil sebagai numero uno di Eropa, 2006.






0 komentar:
Posting Komentar