Heavy Ska in SOLO

Solo - Surakarta Hadiningrat, Jawa Tengah, Indonesia Raya. Kembali dipanaskan oleh gigs underground kolektif, ‘Loud and Proud’ bagian kedua setelah yang pertama lalu terpaksa berhenti karena beberapa pengacau keamanan yang dijuluki ‘aparat keamanan’ oleh masyarakat pada umumnya.
Satu lagi gigs yang diselenggarakan di Solo. Cukup meramaikan Solo yang bisa dibilang cukup sepi acara musik kolektif. Untuk gigs yang kedua ini bisa dibilang cukup sukses mengingat tiket masuk yang berbentuk stiker berharga 5 pukul alias 5 ribu rupiah yang dicetak sekitar 500 eksemplar, hanya tersisa sekitar 60 eksemplar. Meski acara terlambat sekitar satu setengah jam dari yang dijadwalkan (pk.6 sore), dan akhirnya mulai pk.7.30, namun bisa diambil kesimpulan penonton yang masuk lapangan kira-kira 400 orang! Hah?!! Busyet!! Beneran gak yah? Entah habis masuk langsung keluar digantikan orang masuk yang lain lagi. Tapi intinya, benar-benar acara yang ramai benar..
Gigs ramai ini disupport penuh oleh para pengisi acara beraliran musik ska, reggae, rocksteady bahkan Oi! yang tidak hanya dari Solo namun juga Surabaya dan Semarang. Ska, reggae…asik sih musiknya, menarik juga sejarah dan beberapa kisah di balik lagu-lagunya yang dialami si artis aslinya, tapi kenapa hanya itu itu saja ya yang diminati di Indonesia ini? Kenapa gak bikin dancehall atau dub sekalian yang merupakan perkembangan dari kedua genre tersebut? Yah…mungkin nanti seiring berjalannya waktu, lama-lama berkembang juga. Entah berapaaa lamaaa lagi.
Acara dibuka oleh ‘Holi Piby’, band pengusung musik ska dari Solo yang agak kurang mantap performanya. Disusul band kedua ‘Bak’s Series’ dari Solo yang menampilkan musik reggae. Selanjutnya ‘Ready Steady Go’ (R.S.G.) dari Solo yang bermain musik ska 2 tone. Yang menarik dari band ini, meski terbilang baru namun ternyata berisikan ‘orang-orang lama’; drummer Andreas (gitaris the Mobster), Miko (eks gitaris The Mobster) yang tetap memetik gitar, Gepeng pembetot bas (gitaris the Mobster), Hary (eks vokalis The Mobster), Febrie (vokalis band dub dari Solo, Feedbac Speakrs) kemudian Opik dkk.(brass sections the Mobster) yang tetap pada brass section plus keyboard. Band ini cukup menyita perhatian penonton sehingga membuat mereka ber-skanking-ria dan ikut berdendang, apalagi karena ada 3 brass sections yang mengiringi. Ramai sekali!!
Band Oi! pertama pengisi gigs setelah R.S.G. adalah ‘Skop’ dari Solo. Setelah para hadirin dibangkitkan semangatnya oleh beberapa anthem yang dibawakan ‘Skop’, mereka di bawa kembali ke Jamaika dengan ska oleh ‘Stabilo’ dari Solo. Tak kenal ampun setelah itu penonton kembali diajak ber-anthem ria lagi dengan musik Oi!, kali ini bersama ‘G Squad’ dari Semarang dengan para personilnya yang berperforma skinhead pada masa kemunculannya di Inggris Raya sana! Silahkan membayangkan, pastinya tidak sulit karena sudah bejibun performa seperti ini! Mereka dengan sukses mengajak para penonton ikut berdendang dengan mengepal-ngepalkan tangan, apalagi saat mereka membawakan lagu band Oi! legendaris Inggris yang sudah pasti tidak asing bagi para pecinta musik Oi! berikut skinhead seluruh dunia; Cock Sparrer, ‘Because You’re Young’.
Setelah ‘G Squad’ yang membuat penonton membara terbakar semangat, kembali penonton diajak sedikit bersantai dengan musik reggae yang ditampilkan ‘Gold Monkey’ dari Surabaya. Bikin santai? Atau…lebih tepatnya malah bikin loyo karena lagu-lagu yang mereka bawakan lagi2 seperti band2 reggae lainnya hehehehe Bob Marley lagi…lagi2 Bob Marley (mungkin mereka gak tau ada banyak musisi reggae selain Bob Marley hehehe,kasian juga mereka!!!) dan lebih parah lagi, musik yang mereka bawakan hampir tak terdengar seperti reggae, tapi seperti musik POP, atau bisa dibilang ke-reggae-reggae-an.
Performer yang menyusul di belakangnya adalah ‘Amee Is Back’ dari Semarang yang menampilkan musik ska. Cukup banyak peminatnya karena karakter musik ska yang mereka bawakan cukup kental menempel pada performa musik mereka. Suasana ramai, senang, gembira, menghibur hati yg resah, dapat diciptakan oleh grup band ini. Karena memang kalau kita amati musik ini memang musik yang dapat menciptakan atmosfir suka cita, gembira ria, membebaskan hati yang gundah gulana.
Susul menyusul, pengisi selanjutnya adalah ‘The Partner’ dari Solo yang menyuguhkan musik Oi! Band ini bisa dibilang sangat menghibur karena para personil yang sudah berada dalam pengaruh minuman keras khas Solo, ciu. Karena itu, mereka justru sangat menghibur oleh ulah mereka di atas panggung, namun tetap sedikit terkontrol karena salah satu lagu yang mereka bawakan sangat kacau irama musiknya. Namun demikian, mereka tetap bisa mengajak ber-anthem-ria bersama para penggemar musik Oi! Apalagi performa terakhir mereka dengan “England Belongs to me” dari Cock Sparrer.
Setelah terbahak tawa sejenak, kembali penonton menggoyangkan badan dengan lambat diiringi musik reggae (atau lebih tepatnya ke-reggae-reggae-an) oleh ‘Kalama Soul’ yang diproklamirkan sebagai band reggae oleh beberapa orang, mungkin oleh mereka sendiri. Betapa tidak, lagu-lagu yang mereka bawakan hanya seputar lagu-lagu Bob Marley! Lagi-lagi Bob Marley, Bob Marley lagi-lagi! Walaupun selain itu ada beberapa lagu dari artis reggae lain, itupun artis reggae Indonesia. Jadi terdengar seperti band top 40. Kenapa tidak mencari referensi lain ya? Padahal bejibun artis genre ini, jangankan di seluruh dunia, di Jamaika sendiri tempat lahirnya genre turunan ska ini buanyak sekali artisnya kalo mau tahu!. Adalah hal yang berbeda dan harus dihormati apabila mereka membawakan lagu-lagu kondang itu dengan cara yang berbeda, dengan sedikit menceritakan latar belakang lirik atau apalah info bagi yang katanya pecinta reggae apalagi pecinta Bob Marley. Semoga saja ini bukan hanya akan menjadi impian muluk saya saja. Mungkin semua akan berkembang, entah kapan. Saya bukan orang yang tahu semua hal, justru itulah saya mengharapkan ada hal yang membuat saya jadi tahu suatu hal apalagi tentang genre yang subur berkembang ini.
Penampil terakhir yang paling ditunggu; ‘The Mobster’, band pengusung musik ska rocksteady asal Solo ini dengan indah menutup gigs, tetap membuat pecintanya sukarela ber-skankin-ria meski sudah lelah lunglai.Gigs ini bisa dibilang sukses secara keseluruhan. Meski ada ribut-ribut sedikit itu hal biasa. Semoga gigs-gigs seperti ini terus berlanjut..(pheb/Solo/RIND)






0 komentar:
Posting Komentar