Translate

Les Miserables


Sudah lama saya dengar nama besar Les Miserables karya Victor Hugo. Tapi tak pernah saya tergerak menyentuh karya ini. Pikir saya, apa sih menariknya? Peninggalan abad 19, pasti ketinggalan zaman, dan tidak lagi relevan.Tapi saya salah besar. Saya temukan, Les Miserables relevan untuk zaman ini, dan mungkin untuk semua zaman. Saya temukan, Victor Hugo memang bukan nama kosong. Membaca Les Miserables (Yang Menderita) membuat saya betul-betul menderita. Membuat saya ingin berhenti membaca, sekaligus meneruskan membaca. Membingungkan, menghanyutkan, dan menggetarkan.
Tapi sekali lagi, kenapa kita tiba-tiba perlu membaca karya ini? Kenapa sekarang? Harus saya akui, memang tak ada alasan khusus untuk itu, selain bahwa karya ini sekarang tersedia dalam bahasa Indonesia, dari penerbit Bentang. Hanya saya percaya, karya-karya tertentu, seperti Les ini, layak dinikmati kapan saja.

Les Miserables selesai ditulis saat Victor Hugo berusia 60 tahun. Saya duga, Hugo berupaya menuangkan aneka renungan hidupnya, melalui buku ini. Di salah satu bagian, misalnya, Hugo menulis, “Hanya ada satu pemandangan yang lebih luas daripada samudra, yaitu langit. Akan tetapi, ada pemandangan yang lebih luas daripada langit, yaitu ruang batin manusia…” Begitulah.Alkisah tokoh utama Les Miserables, Jean Valjean, mencuri sepotong roti di musim dingin, demi memberi makan tujuh keponakan yang kelaparan. Akibatnya, dia harus menjalani kerja paksa diatas kapal, selama 5 tahun. Karena terus mencoba kabur, akhirnya Valjean mendekam 19 tahun di penjara. Saat keluar penjara, usianya sudah 46 tahun.Sejak dalam penjara sampai keluar penjara, Valjean terus bertanya-tanya, dimanakah rasa belas kasihan di dunia ini? Mengapa warga masyarakat yang paling miskin dan lemah, justru mendapat perlakuan paling keras? Mengapa masyarakat menghancurkan anggota keluarganya sendiri? Mengapa? Mengapa?Dalam kondisi penuh rasa getir dan kemarahan, Valjean bertemu seorang berhati mulia, Uskup Bienvenu Myriel. Maka berubahlah semuanya. Segalanya. Myriel membeli jiwa penuh luka Valjean, seharga beberapa potong peralatan perak. Sejak saat itu, Valjean tak lagi punya jiwanya yang dulu. Sepak terjangnya setelah itu, tak lagi bisa sama…Victor Marie Hugo (1802 – 1885), warga Prancis, menghasilkan aneka jenis karya sastra, mulai dari puisi hingga novel. Dua karya Hugo paling dikenal, adalah Les Miserables dan The Hunchback of Notre Dame.Sejak terbit pertama kali tahun 1862, Les Miserables langsung jadi karya yang menghebohkan. Tanggapan para kritikus awal terhadap karya ini, sangat bervariasi. Beberapa menyebut karya ini terlalu sentimental. Beberapa lain beranggapan, karya ini terlalu dibuat-buat. Yang jelas, Les yang langsung terbit dalam 9 bahasa, meraup sukses komersial di seluruh penjuru Eropa.Tak terhitung lagi, jumlah karya lain, yang terinspirasi oleh Les Miserables. Sejak terbit, Les langsung diadaptasi ke berbagai bentuk karya lain, mulai dari drama musik, sandiwara radio, film, film animasi, sampai game komputer.Film layar lebar telah mulai muncul sejak tahun 1907. Sejak itu, hampir setiap tahun, di berbagai penjuru dunia, muncul karya film berlandaskan Les Miserables. Tahun 2008 ini saja, tercatat ada tiga film sejenis. Hollywood tentu saja tak ketinggalan, pernah beberapa kali mengangkat karya ini dengan berbagai versi, dengan bintang mulai dari Jean-Paul Belmondo hingga Liam Neeson.Entah apa unsur pokoknya, hingga Les Miserables demikian populer dan berpengaruh luas. Saya sendiri, memang menikmati cara Hugo bercerita. Saya merasakan sang sastrawan duduk di sebelah saya, mengungkapkan kisahnya. Salah satu bab Les Miserables misalnya, memang dibuka dengan menyapa pembaca. Hugo menulis, “Para pembaca tentu sudah menduga bahwa Monsieur Madelaine tak lain adalah Jean Valjean…”.Hanya saja dalam perjalanan membaca buku ini, saya sering ngedumel. Kenapa sih, tokoh-tokoh di kisah ini demikian berlebihan karakternya? Kenapa Valjean tidak bisa beristirahat dan santai sedikit dari nilai moralnya itu? Kenapa inspektur polisi Javert harus mengambil langkah demikian ekstrim, untuk mendamaikan pikirannya yang kacau? Kenapa anak kecil seperti Gavroche bisa-bisanya menyanyi dan menari di hadapan desingan peluru? Tidak realistis. Tapi mungkin, memang seperti itulah romantisme ala Hugo di abad 19.
Terlepas dari cara bercerita, hal yang sebetulnya paling saya nikmati dari karya ini, adalah bagaimana Hugo menyampaikan nilai-nilai moralnya. Pesan-pesan kemanusiaannya. Bila kita bicara tentang relevansi, hm, saya merasa pesan moral buku ini cocok sekali, dengan situasi Indonesia masa kini.Singkatnya, Les Miserables adalah karya yang layak dan ‘menyenangkan’ untuk dibaca. Bahkan, menurut saya, bagi para pecinta karya sastra dan pecinta kemanusiaan, Les Miserables adalah wajib baca. Mudah-mudahan, terbitnya Les Miserables di Indonesia, mengilhami penerbit lain menerbitkan karya-karya klasik hebat lainnya. Dan mungkin, mengilhami penulis Indonesia untuk menghasilkan karya setara.
Saya rasa, Les Miserables patut memperoleh rekomendasi lima bintang.

0 komentar:

Geo Clock

Google